gabemahita

Kenapa anakku kejang?

Posted on: August 6, 2014


Jaman sekarang dimana semua serba instan termasuk makanan sudah banyak yang diproduksi oleh pabrik, banyak polusi sehingga tidak heran bagi kita mudah jatuh sakit, dan tingkat kematianpun meningkat. Sudah jarang berumur panjang. Untuk itu orang tua jaman sekarang juga berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sebisa mungkin semua makanan nya serba alami dan masak sendiri demi menghindari sakit. Namun, usaha manusia ada batasnya, belum lagi anak apalagi umurnya masih 2 tahunan,seperti anak saya.

Seminggu ini mulai dari libur bersama lebaran, anak saya tidak bisa dikontrol, baik itu makanan dan aktifitasnya. Karena keluarga datang dan keponakan datang berlibur, maka anakku seperti punya kebebasan, aktifitas dan makanannya, karena sudah serba sibuk di rumah, dan seharian jalan2, panas terik. Hasilnya hari selasa tanggal 29 juli, lebaran kedua, malam harinya, anak saya jatuh sakit, demam dan menceret. Aku terapi di rumah saja, akhirnya pulih, hari kamis. Hal yang membuatku merasa bersalah dan bodoh adalah, baru sembuh dari demam, jumat pagi itu anak saya mandi air dingin. Jadilah demam lagi ditambah dengan muntah.

Saya khawatir sepanjang jumat itu anak saya tidak mau makan, muntah jalan terus. Akhirnya saya bawa berobat ke dokter umum dekat rumah, dikasih paracetamol dan obat diare berupa serbuk, bodohnya aku, aku tidak tau serbuk itu obat jenis apa. Jumat tengah malam,anak saya terbangun dengan keadaan kejang. Tangan dikepal, telapak kaki ditekuk, mulut ditutup rapat dan mata melihat ke atas. Siapa yang tidak panik melihat anak begitu? Sejak dari situ, 3 kali anak saya terbangun sampai pagi, 3 sebanyak itu pula anak saya kejang. Ya Tuhan, apa ini? Sabtu pagi itu langsung saya dan suami ke rumah sakit Stella Maris Medan dan konsultasi dengan dokter anak. Oleh dokter dikasih cairan berupa oralit, obat kejang dan obat muntah menceret. Tidak lupa aku juga menunjukkan obat yang kudapat dari dokter umum sebelumnya. Yang dokter anak ini curigai adalah obat serbuk tersebut. Karena di situ tidak ada tertulis itu obat jenis apa dan menurut dia ada obat yang bisa menyebabkan kejang, jika tubuh pasien tidak dapat mentolerir obat tersebut. Hal ini dicurigai karena saat itu anak saya tidak demam lagi. Sekalian di sana juga test darah untuk cek eletrolitnya, semua baik2 saja.

Kami pulang dari RS tersebut, sorenya langsung kasih obat sama anak saya. Namun malamnya anak saya tetap kejang. Aku dan suami tidak tahan lagi, langsung telp dokter tersebut dan minta opname saja. Dokter bilang kamar sedang penuh, akhirnya beliau merujuk kami ke RS Elizabeth Medan dan ketemu dengan seorang dokter di RS tersebut dan minta ditangani oelh dokter Johannes Saing. Ya, bagi orang tua yang rajin membawa anak ke dokter anak, sebagian besar tidak asing lagi dengan dokter ini, bapak beliau dokter Bistok saing juga merupakan dotker kepercayaan orang tua. Malam itu juga,langsung telp taksi dan berangkat ke rumah sakit.

Ketika di IGD, Shiloh kejang lagi, dan itu terjadi sesaat dia bangun tidur. Akhirnya oleh dokter jaga diinfus dan diambil darah untuk cek darah lagi, dengan tidak lupa saya juga menunjukkan hasil tes darah dari RS Stela maris. Pagi nya bertemu dokter Johannes, aku bilang bahwa anak saya masih kejang, beliau melihat hasil test darah, dan cek suhu badan, dan mengatakan hasilnya bagus. Akhirnya beliau meminta untuk EEG, supaya dapat dilihat kejang tersebut karena apa takut ada efek sama otak dan syaraf anakku.
Senin tanggal 4 anakku test EEG. Sebelum menuju ruang pemeriksaan, anakku diberi minum sirup yang sudah ditambahkan obat tidur, supaya ketika didalam pemeriksaan nanti, anak tidak recok, dan tetap tertidur. Poor my baby. Di ruangan EEG itu, pada kepala anakku dilengketkan besi kecil yang ujungnya disambungkan dengan kabel, kabelnya banyak dan berwarna- warni.kemudian dihubungkukan dengan sebuah alat yang sudah dikoneksikan ke komputer. Proses EEG kira2 berlangsung selama 30menit. Hasilnya berupa kurva seperti hasil pengukuran kekuatan gempa itu. Dan yang dapat membacanya adalah dokter anakku tersebut, terpaksa menunggu keesokan hari nya untuk mengetahui hasilnya. Karena dokter hanya sebentar di RS dan Cuma dapat bertemu sekali dalam 1 hari.

Keesokan harinya, selasa tanggal 5 agustus 2014, dokter datang,dan membawa hasil EEG. Syukur pada Tuhan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dengan tersenyum dokter tersebut berkata ‘bagaimana Shiloh, hasil nya baik nih, ngapain lagi di sini, pulang saja.’ Hatiku bersorak sorai. Jadi kesimpulan dokter, kejang tersebut akibat obat dari dokter umum yang pertama. Ketika pulang, aku masih membawa obat anti kejang dan probiotik. Hal ini juga disampaikan oleh kak Ika, kenalanku ketika kuliah di Jogja, sepertinya dia juga sudah menjadi spesialis anak. Sebelumnya aku memposting status tentang anakku, berharap ada yang memberikan pencerahan, kak Ika ini mengirim private message di fb, dan memberi keterangan yang jelas banget. Trimakasih kak Ika.

Berikut juga saran-saran dari kak Ika, smoga dapat menjadi pedoman buat kita orang tua.

Memang ada satu obat muntah yg buat anak kejang, krn efek extrapiramidalnya. Tetapi sdh jarang sekali dokter pakai obat itu gara2 efek kejangnya. Nama obatnya metoclopramide. Biasanya dokter akan beri vometa, isinya domperidon. Ada yg tablet, ada yg sirup.

Penyebab kejang pada anak banyak sekali, antara lain.
1. Di saat anak muntah dan diare, anak akan kehilangan banyak cairan. Kehilangan elektrolit, kehilangan cairan. Nah…kehilangan elektrolit yg terlalu banyak akan menyebabkan anak kejang. Kehilangan cairan, anak akan demam. Demam itu yang membuat kejang.Itu kenapa kalo anak diare, bukan diberi anti diare, tetapi diberi zink dan oralit, kadang diberi probiotik. Tujuannya supaya elektrolit yg keluar dpt oleh oralit itu. Ada oralit, pedialit dkk, rasanya pun macam2. Zink dan probiotik utk membantu memperbaiki flora normal di usus, lambung. Kami dokter anak, tidak pernah memberi obat anti diare, supaya semua racun keluar.
2. Demam.
Tidak harus demam tinggi yang membuat anak kejang. Itu semua bergantung pusat pengatur suhu di otak. Semakin rendah suhu saat anak kejang, semakin orang tua harus waspada. Karena kejang bisa berulang.

Banyak yang bisa buat anak demam, kekurangan cairan, infeksi. Disaat anak demam, harus diberi minum yang lebih dari biasanya. Karena demam menyebabkan cairan di tubuh banyak hilang. Penurun panas diberikan saat anak sudah 38,0. Itu menurutku, karena itu adalah batas aman. Ga terlalu tinggi jg ga terlalu rendah. Kompres dgn air biasa. Bkn air dingin.

Yang harus diingat, kalo dapat obat harus tau nama obatnya. Kalo perlu catat. Krn kalo ada efek obat yg timbul, kamu jadi tau harus menghindari obat itu. Masing2 obat efek ke masing2 individu akan berbeda. Ada yg alergi dgn bbrp obat, ada yg ga alergi sama sekali. Ada pasien yg merasakan efek samping, ada yg ga sama sekali. Dokter ga akan tau, tp dokter biasanya akan minta utk diamati jika ada efek sampingnya. Dan biasanya dokter juga akan tanya alergi obat atau tdk. Selain itu…ada penyakit dengan tanda utama kejang. Misal radang otak atau epilepsi. Maka biasanya anak kejang akan diobservasi di bangsal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: