gabemahita

Ulang tahun Kevin yang ke-2 sudah berlalu, tepat hari senin, tgl 5 Juni 2017. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan Kevin makin banyak perkembangan. Saat ini yang suka dia lakukan adalah menggiring-giring sepeda warna pink nya (bekas kakaknya dulu) keluar masuk rumah, dan sesekali jika pagar rumah terbuka, diam-diam dia akan keluar sambil menggiring sepeda itu. Secara diam-diam pula, dia akan menyiram bunga dan sepedanya. Namun jika sudah ketauan sama mama, bapa atau kakaknya, dia akan langsung menjauh dari keran air itu, anak pintar. Kesukaannya menyiram sepeda seolah-olah akan membersihkan sepeda, atau menyiram bunga sampai pot nya penuh dengan air karna seringnya dia melihat kami melakukannya.

Sekarang-sekarang ini kedua kakak beradik itu, Cilo dan Kevin, sering menunjukkan rasa cemburu satu sama lain. Jika Kevin digendong dan dimanja-manja sama mama atau bapaknya, maka Cilo akan minta digituin juga. Begitu pula sebaliknya, misalnya jika bapak memeluk Cilo, Kevin akan mendekat sambil menunjukkan ekspresi tidak suka sambil berteriak. Hahaha…lucu. Apalagi jika Kevin melihat mama bapanya berpelukan atau cipika cipiki, atau agak mesra, Kevin akan datang dan memukul kami, atau nangis kencang. Aduh aduh…

Kebiasaan Kevin yang lain adalah dia sangat antusias melihat mobil. Jika ada suara mobil, dia akan berlari ke pintu dan menunggu mobil lewat, dia akan berdiri di situ terus atau bahkan akan ke pagar sambil menunggui mobil tersebut. Paling membuat ga enak adalah jika mama atau bapa nya bawa Kevin jalan-jalan komplek, dan ada mobil tetangga atau mobil yang sedang parker di pinggir jalan, dia akan memegangi mobil itu, mencium dan minta dibukain pintu supaya dia bisa masuk ke dalam mobil. Bikin malu dech..tapi begitulah anak-anak ya. Doakan ya,nak..kita ada rejeki supaya bisa beli mobil hehe. Amin.

Shiloh saat ini sudah mulai bisa membaca dan menulis juga berhitung, walaupun bacanya  masih mengeja. Saya memang sudah mengajarinya sedikit-sedikit dari 1 tahun yang lalu tanpa mematok porsi belajarnya agar kelak dia masuk TK maka dia sudah punya dasar. Bulan 7 nanti dia akan masuk langsung ke TK B, semoga dia bisa menikmati sekolahnya. Perasaanku kadang deg-deg-an jika memikirkan Cilo akan sekolah. Pikiran tentang dia mampu atau tidak , teman-temannya baik atau tidak, guru-guru nya perhatian atau tidak, tapi semoga Cilo bisa menyesuaikan diri. Good luck,boru.

Sekian dulu update kegiatan anak-anakku. Semoga tahun ini tahun yang banyak bawa berkat buat kita.

Belakangan ini kami disibukkan dengan kegiatan membuat mainan untuk anak sendiri. Daripada beli, kalau bisa dibuat sendiri, kenapa tidak. Kevin saat ini sudah sangat bersemangat ditambah lagi sudah bisa berjalan, tidak bisa diam, apa yang dapat dilakukannya akan dia lakukan, untuk itu kami berinisiatif untuk membuatkan mainan untuknya juga kakaknya. Tujuannya adalah agar Kevin memiliki kesibukan tambahan tanpa harus menambah berantakan seisi rumah hehe. Namun tetap, namanya anak-anak, tidak akan bisa bertahan lama pada satu benda saja.  Nah mainan yang akan aku ceritakan adalah kail mainan.

Bermula dari adekku yang meminta dibuatkan kail mainan yang bermagnet untuk dipakai oleh Play Ground tempatnya mengajar, maka ide ini muncul. Langsung aku iyakan dong. Sesampainya di rumah, aku langsung bicara pada suami dengan antusiasnya. Suami pun menyanggupi. Kail yang dimaksud terdiri dari rotan, peganganya dari kayu balsa dan tentunya magnet di ujung kailnya supaya ikan2 mainan dapat menempel ketika anak-anak bermain pancing-pancingan. Kailnya dibuat dalam tiga warna yang totalnya 12 pancingan. Hasilnya seperti gambar berikut. Sangat cocok untuk anak-anak terutama toddler. Mainan pancing ikan ini mengasah daya imajinasi anak terhadap warna-warna dan menjadikan anak kreatif ketika mulai memancing ikan-ikanan. Play Ground tersebut hanya memesan kailnya saja. Untuk anak-anakku akan kami buatkan ikan-ikannya, oleh karena itu tunggu ya updatenya.

 

Yuhhu…ikannya udah jadi. Berikut tampilannya. Setiap ikan dipasangkan sejenis besi untuk magnet dapat nempel. Pattern ikan terinspirasi dari ana-white.com . Thank you,Ana.

Belakangan ini pikiran begitu banyak, begitu tinggi, sampai2 hampir lupa untuk berpijak ke bumi kembali. Banyak keinginan yang ingin dicapai, entah memang suatu kebutuhan atau ego semata. Sudah 1 tahun 6 bulan suami tidak mencari nafkah sejak kelahiran anak kedua kami. Ya, memang karena menjaga anak-anak. Dan selama itu pula pastinya pendapatan berkurang. Karena itulah, sekarang menurut kami sudah saat nya suami kembali berkiprah..syah.. entah itu kembali meneruskan karirnya dipertukangan baik bangunan atau mebel, atau mencoba berdagang atau bisnis rental atau travel. Ahh..hal ini lah yang menjadi pergumulan kami saat ini. Walaupun keinginan itu kuat, namun di sisi lain, anakku gimana? Pastinya bakal dititip ke orang, tapi tapi.. hati ini kembali gundah.

Feuuhhh..dari pada mikirin di lingkaran bagaimana menambah rejeki terus, mending aku mencoba meniti semua kepintaran anakku Kevin dulu.

Kevin, si abang barat, si botak (sekarang sedang botak sudah beberapa hari, yang akhirnya memberikan kesan badung di wajahnya hehe), sehat terus yang pasti. Sudah hampir 2 bulan ini tidak ada keluhan sakit setelah sebelumnya sambung menyambung dari demam, batpil, diare, batpil lagi. Kevin yang saa ini sudah mulai berjalan walaupun harus dijaga sepanjang dia jalan, karena masih kurangnya keberanian atau percaya diri nya. Setiap anakku ingin berjalan, dia akan menarik tanganku atau papanya, yang artinya ‘ma/pa, jagain aku ya’. Kemudian aku atau papanya pun akan mengikutinya dari belakang tanpa memegang tubuhnya, namun ketika dia mulai agak oleng, baru kami akan menopang sedikit tubuhnya agar kembali seimbang. Pegal pasti. Namun terbayarkan jika dia sudah mulai lihai dalam berjalan. Ada kalanya Kevin tidak sadar sudah berjalan tanpa dipantau atau berdiri tanpa bersandar. Sesaat kemudian jika fokusnya kembali bahwa dia sedang berjalan atau berdiri sendiri, saat itu pula dia akan gamang dan secepatnya berpegangan atau langsung duduk. Haihhh ..ayo dong,nak, kapan bisanya? Aku dan suami sering berpendapat bahwa Kevin sebenarnya atau semestinya sudah bisa jalan, sebab dia sudah berani naik turun sofa, berjinjit sampai ke ujung kakinya untuk menggapai benda dari ketinggian, sudah berani menggiring sepedanya seperti anak yang sudah bisa jalan. Terserah kamu lah,nak, kami tunggu dengan sabar ya, ketika kita berjalan bersama di suatu saat nanti tanpa dibimbing.

Dua hari yang lalu, ketika kakaknya Cilo minum susu kotak pakai sedotan, Kevin pun seperti biasa mendekati kakaknya seolah minta. Kemudian aku langsung mendekatkan sedotan susu tersebut ke mulutnya, dia pun mulai menggigiti sedotannya hehe. Beberapa kali kami contohkan, akhirnya Kevin mulai bisa menyedot, ahh..aku dengan senangnya tertawa sambal bilang ‘pintar’ dia pun keenakan. Keesokan harinya ketika Kakaknya minum susu kotak lagi, dia pun ikutan minum, menyedot dengan sedotan kali ini lebih baik dan akhirnya Kevin bisa minum pakai sedotan..horeee..good job, anak mama!

Hampir di hari yang sama, ketika kami sedang nonton tivi bareng, aku, papanya, Cilo,Kevin di pangkuanku. Tiba-tiba ada 1 kata keluar dari mulutnya mirip kata ‘doa’, sambil melipat tangan walaupun tidak sempurna untuk sikap berdoa, termangu sebentar mencoba menangkap apa yg dia maksud, aku pun langsung mengucapkan doa singkat seperti ‘Ya Tuhan, berkati Kevin, Ammeenn’, selesai, langsung lipatan tanganya dibuka..Ahh…amazing, bertubi-tubi kepintarannya muncul, membuat kami amaze-lah. Bayi-anak itu memang cerdas, ketika kebiasaan yang dilakukan orang di sekitarnya terutama orang tuanya sudah melekat di pikiranya, anak pasti cepat belajar. Sungguh luar biasa. Makanya kata literature, usia di bawah 5 tahun sebaiknya banyak melakukan stimulasi karena syaraf otak anak sedang berkembang, sangat cepat. Waww…

Tidak bisa dihitung kemajuan-kemajuan yang dilakukan anak, itu semua adalah anugerah. Di atas segalanya, sehat selalu adalah doa terbesar buat anak-anak. Jika anak sudah sakit, pikiran tidak tenang.  Mommy loves both of you, My Cilo Kevin.

Setelah minum OAE yang saat ini sudah mendekati 4 bulan, Kevin (1 tahun) tidak kejang kejang lagi. Kutulis ‘tidak’ karena berharap tidak pernah lagi sepanjang hidupnya. Semoga Tuhan berkehendak demikian. Tumbuh kembangnya juga tidak ada masalah menurutku juga dokternya. Kemaren tanggal 20 Juni 2016, kontrol ke dokter Johannes Saing.  Kontrol kali ini tidak ditemani oleh kak Cilo. Kak Cilo nya titip di rumah Rafael dulu, kasian asian bersempit-sempit di motor, berhubung Jl. Gaharu lumayan jauh. Seperti biasa dokter cek perut, punggung, mulut, dan ukur kepala, semua baik-baik saja. Semoga efek samping obat dapat dilawan oleh tubuh Kevin anakku. Saat ini BB naik menjadi 9,1kg, oleh karena itu dokter menaikkan dosis obat menjadi 2ml x 2 seharinya. Berharap besar dapat berjalan lancer terapi obatnya, supaya Kevin dapat bebas dari si E, seperti abang Al (anaknya Ai di grup Ortu Hebat hehe).

Doa terbesar kami saat ini agar tumbuh kembang Kevin tidak ada masalah sehingga dapat menjalani hidupnya dengan normal seperti anak lain. Begitu juga anak-anak di grup Ortu Hebat. Amin.

Sudah hampir dua bulan Kevin menjalani terapi obat untuk menanggulangi kejangnya. Tidak ada perbedaan yang tampak pada dirinya, dia seperti anak lainnya. Ceria, penuh energi, ngoceh macem-macem, suka sekali melempar dan goyang apalagi kalau sudah mendengarkan music, duduk berdiri dan merambat, semua itu tidak membuatnya capek.  Cuma, seminggu lalu dia sempat mogok makan dan minum susu termasuk menyusu langsung dari mama, karena gigi atasnya sedang tumbuh sekaligus 3. Dia menangis dan cengeng, hingga kami antara tidur ga tidur. Namun yang paling parah Cuma berlangsung 1 hari. Besoknya dia sudah mau minum susu dari botol, tetap tidak mau menyusu langsung, bahkan sampai sekarang, dikala porsi minum susunya lebih banyak dari sebelumnya dan makan sudah mulai membaik.  Apakah ini pertanda dia sudah tidak mau ASI langsung lagi? Mungkin saja iya. Karena memang produksi ASI sudah mulai sedikit, aku pun sudah mulai jarang pompa, hanya demi membuat nyaman payudara. Sekarang pompa ASI  cuma 2 kali dalam 24 jam, sekali pompa hanya dapat setengah botol kaca UC1000. Tidak apa-apa lah, semoga Kevin sehat-sehat.

Saat ini suasana hati sedang tidak baik, pikiran stress. Gimana tidak, baru tadi malam (7 Maret 2016) anakku (9 bulan) diputuskan untuk minum obat selama dua tahun untuk menanggulangi kejang nya. Sedih rasanya mendengar itu dari dokter anak sepsialis neurologi anak tadi malam. Kenapa harus anakku? Kalimat yang selalu teringiang dalam pikiran. Dia begitu lincah, sudah bisa berdiri berpegangan, ceria. Tidak tampak bahwa di dalam dirinya terselubung kelainan otak itu, yang mana kata dokter ada kotak-kotak di bagian otak yang berpotensi terjadinya kejang lanjutan, baik tanpa atau dengan demam.

Kejadian itu bermula pada akhir desember lalu (desember 2015), anakku yang memang sedang pilek namun tetap ceria, juga demam yang naik turun kejang untuk pertama kali nya hanya pada suhu 38,5C. Saat itu aku sedang memangkunya sambal minum susu dari dot. Tiba-tiba badangnya kejang, tangan dan kaki tegang, mulut dikatup, tidak sampai 2 menit, kejang sudah berhenti, dan lemas. Sehabis kejang dia BAB kemudian kembali riang ke sana kemari. Kami langsung membawa ke dokter umum terdekat dan diberi obat demam dan anti kejang.

Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 28 Feb 2016, kejang secara tiba-tiba. Kali ini tangannya tegang dikatup, mata melihat ke atas, namun bagian tubuh dari perut ke kaki tidak tegang, biasa saja. Kami tidak berpikiran dia demam, Cuma dia sedang batuk pilek juga sedang rewel karena tumbuh gigi pertama. Kejang nya juga sedang minum susu dari dot, dan maksimal hanya 1 menit. Berhenti dan dia lemas tertidur sebentar. Kami bawa ke dokter umum terdekat, dikasih obat batuk pilek dan anti kejang. Saat itu juga diukur suhu badannya, hanya 36.9C, alias tidak demam. Bingung dan sedih rasanya. Karena say abaca-baca kejang tanpa demam ini yang berpotensi besar untuk terjadi epilepsy.

Kami pun janjian dengan dokter anak pada hari senennya. Dia menyarankan kami EEG. Karena satu dan lain hal, EEG baru dapat kami lakukan pada hari kamis (3 maret 2016) dan hasilnya kami ambil hari sabtu nya. Karena dokter tersebut tidak bisa kami temui hari itu juga, sedangkan kami sudah ingin sekali tau hasilnya, kami pun mendatangi dokter lain, dokter ini yang merawat anak pertamaku dulu ketika di opname karena diare dan kejang. Saya juga baru ingat sama dokter ini, dokter anak spesialisasi neurologist juga. Sabtu itu juga kami datang ke tempat praktik beliau dengan membawa hasil EEG itu. Namun karena dia tidak bisa baca hasil pastinya karena tidak dapat melihat ke sumber rekaman EEG nya, dia pun menyarankan kami EEG ulang ke RS tempat dia bekerja. Ya tidak apa-apa, demi berharap hasilnya beda dan lebih baik, kami pun EEG kembali pada hari senen, 7 maret 2016.

Tanggal 8 maret 2016 pertama kalinya Kevin minum obat itu. Terbayang selalu masih panjangnya perjalanan kami memberi obat itu pada anak kami, pastinya butuh komitmen yang kuat untuk dapat berhasil. Semoga hanya dua tahun, kalu bisa dapat dipersingkat. Berharap tidak terjadi kejang lagi dalam perjalanan 2 tahun ini, supaya anakku tidak lebih lama minum obatnya. Anakku susah sekali minum obat, kasihan melihat dia harus dipaksa untuk minum obat. Apalagi obat ini harus diminum 2 kali sehari. Tuhanlah yang menguatkan anakku dan menyembuhkannya. Mohon doanya siapa pun yang membaca ini.

Berikut hasil eeg dari kedua RS :

  1. Materna,Medan : Kesan menunjukkan kelainan irritatif difus , komentar gambaran EEG dapat sesuai dengan penyakit konvulsi
  2. Elisabeth, medan: kesan EEG menunjukkan lesi iritatif multifocal

Sayangnya saya belum bertanya apa akibatnya buat anak saya dengan hasil eeg seperti itu. Mungkin nanti konsultasi selanjutnya saya akan tanyakan lebih jelas.

Kita tidak dapat memungkiri kalau seorang laki-laki, atau lebih tepatnya seorang yang sudah menjadi bapak, umumnya memiliki pemikiran kalau urus rumah itu adalah istri, apalagi urus anak. Bapak umumnya akan gengsi atau dari sono nya memang sudah punya ego sendiri untuk tidak mau mengurus anak. Jangankan membersihkan pup anak, menggendong di depan umum pun mungkin akan gengsi. Ayo, pasti saat ini masih ada yang begitu kan?

Kebetulan saat ini aku baru saja baca soal pengakuan seorang bapak bahwa sudah bawaan alam sadarnya kalau lelaki itu ego dalam mengurusi rumah, termasuk anak. Punya anak ya sudah punya anak, ya begitu saja. Cukup kewajibannya Cuma urus soal mencari nafkah. Iya, kalau memang si lelaki itu memiliki pekerjaan tetap, atau pekerja keras, walopun tidak memiliki pekerjaan tetap, dan berpikiran bahwa dia akan menafkahi anak istrinya. Tapi, bagaimana pula dengan bapak-bapak yang pekerjaannya tidak menentu, eh masih saja kerjanya Cuma makan tidur saja di rumah. Kalau di orang batak, banyakan nongkrong di lapo. Grrr….semua urusan dilimpahkan ke istri. *Tabok

Nah, kali ini aku mau share kegiatan keseharian keluargaku. Berkaca dari yang sudah aku sebutkan di atas, aku bersyukur sekali memiliki suami seperti suamiku. Suamiku harus merelakan pekerjaan-pekerjaan yang ditawarkan kepadanya, demi bisa menjaga anak-anak kami. Dari anak pertama, suami ku juga yang urus. Ya, sebelumnya sejak saya masih hamil juga, sudah kami diskusikan siapa yang akan menjaga anak kami jika aku sudah melahirkan. Sekarang anak kedua kami baru akan berumur 3 bulan dan anak pertama kami berumur 3 tahun 3 bulan. Oleh karena itu, kebayang dong gimana suamiku repotnya mengurusi anak. Dan hei..bukan sekedar mengurus anak loh, dia juga selalu berusaha untuk beberes rumah. Jadi ketika aku sudah pulang, rumah sudah bersih, itu selalu yang jadi komitmen nya hehe.

Taukah kamu, kalau sekarang anak keduaku sedang bisulan. Sudah hampir sebulan, mati 1, muncul lagi. Gemes. Dan merawat yang bisulan itu pekerjaan yang butuh ketelatenan. Suamiku lah yang melakukanya ketika aku kerja. Bahkan jika aku sudah di rumahpun, aku dan suami masih ganti-gantian memperhatikan anak-anak, terutama anak kedua kami yang dari sejak lahir memang termasuk rewel.

Setiap hari, mulai dari bangun tidur tiap jam 5, kalau anak kedua kami (Kevin) sudah bangun dan minta minum, terpaksa yang masak adalah suami. Jika sambil menyusu Kevin tertidur, bisalah aku bantu beres-beres rumah. Jika tidak, ya sampai nyapu rumah minimal akan dikerjakan oleh suami. Selesai itu, Kevin pindah ke bapaknya, dan aku beres-beres ASIP, sterilisasi perlengkapan ASIP dsb, baru kemudian aku mandi. Pulang dari kantor, Kevin langsung aku yang perhatikan, tidak sempat duduk-duduk manis dulu istirahat, bahkan makan juga curi-curi waktu, maklum suka lapar. Suami membereskan yang lain yang belum sempat dibereskan, termasuk cuci baju, cuci piring, mandiin kakak cilo. Ya, itu karena Kevin maunya digendong atau memang cengeng anaknya. Kami semua jadi rontok badanya rasanya. :D.

Jika dilihat orang, memang pasti mayoritas mencibir suamiku. Dianggap suami yang tidak bisa menafkahi keluarga, atau lainnya. Pernah suatu saat, temanku berujar enak banget suamiku bisa di rumah terus. Kemudian aku jawab bahwa suamiku justru paling capek. Dari kalimat temanku itu, masih banyak kita berpikir, bahwa pekerjaan rumah itu adalah pekerjaan yang enteng. Makanya tidka heran, banyak suami yang beranggapan pekerjaan istri Cuma di rumah enak-enakan. Karena si suami saja yang cari nafkah, sehingga istri dianggap Cuma terima duit. Coba dech para suami di rumah dulu, lakukan rutinitas yang istrimu lakukan, seperti yang sudah dilakukan suamiku, yakin pasti kalian akan berubah pikiran soal pekerjaan mengurus rumah. Jadi, sayangi dan hargailah istrimu. Istri bisa saja mencari duit, namun aku tidak yakin suami sanggup melakukan pekerjaan rumah seperti yang dilakukan istri. Sekali lagi aku katakana, bahwa tidak banyak suami yang sanggup seperti suamiku. Bukan karena dia malas cari nafkah atau tidak sanggup menhidupi keluarga, namun untuk saat ini, begitu dulu kebutuhan kami. Bukankah kebutuhan dan kondisi setiap keluarga beda-beda. Jadi jangan samakan keluarga si A dan si B.

Akhirnya aku berharap, anak-anak kami sehat selalu. Dan suatu saat keluarga kami lebih sejahtera seiring berjalanya waktu, anak-anak sudah besar-besar, dan suami sudah memiliki usaha yang lebih baik untuk tambahan rejeki. Hanya Tuhan yang tau.