gabemahita

Setelah minum OAE yang saat ini sudah mendekati 4 bulan, Kevin (1 tahun) tidak kejang kejang lagi. Kutulis ‘tidak’ karena berharap tidak pernah lagi sepanjang hidupnya. Semoga Tuhan berkehendak demikian. Tumbuh kembangnya juga tidak ada masalah menurutku juga dokternya. Kemaren tanggal 20 Juni 2016, kontrol ke dokter Johannes Saing.  Kontrol kali ini tidak ditemani oleh kak Cilo. Kak Cilo nya titip di rumah Rafael dulu, kasian asian bersempit-sempit di motor, berhubung Jl. Gaharu lumayan jauh. Seperti biasa dokter cek perut, punggung, mulut, dan ukur kepala, semua baik-baik saja. Semoga efek samping obat dapat dilawan oleh tubuh Kevin anakku. Saat ini BB naik menjadi 9,1kg, oleh karena itu dokter menaikkan dosis obat menjadi 2ml x 2 seharinya. Berharap besar dapat berjalan lancer terapi obatnya, supaya Kevin dapat bebas dari si E, seperti abang Al (anaknya Ai di grup Ortu Hebat hehe).

Doa terbesar kami saat ini agar tumbuh kembang Kevin tidak ada masalah sehingga dapat menjalani hidupnya dengan normal seperti anak lain. Begitu juga anak-anak di grup Ortu Hebat. Amin.

Sudah hampir dua bulan Kevin menjalani terapi obat untuk menanggulangi kejangnya. Tidak ada perbedaan yang tampak pada dirinya, dia seperti anak lainnya. Ceria, penuh energi, ngoceh macem-macem, suka sekali melempar dan goyang apalagi kalau sudah mendengarkan music, duduk berdiri dan merambat, semua itu tidak membuatnya capek.  Cuma, seminggu lalu dia sempat mogok makan dan minum susu termasuk menyusu langsung dari mama, karena gigi atasnya sedang tumbuh sekaligus 3. Dia menangis dan cengeng, hingga kami antara tidur ga tidur. Namun yang paling parah Cuma berlangsung 1 hari. Besoknya dia sudah mau minum susu dari botol, tetap tidak mau menyusu langsung, bahkan sampai sekarang, dikala porsi minum susunya lebih banyak dari sebelumnya dan makan sudah mulai membaik.  Apakah ini pertanda dia sudah tidak mau ASI langsung lagi? Mungkin saja iya. Karena memang produksi ASI sudah mulai sedikit, aku pun sudah mulai jarang pompa, hanya demi membuat nyaman payudara. Sekarang pompa ASI  cuma 2 kali dalam 24 jam, sekali pompa hanya dapat setengah botol kaca UC1000. Tidak apa-apa lah, semoga Kevin sehat-sehat.

Saat ini suasana hati sedang tidak baik, pikiran stress. Gimana tidak, baru tadi malam (7 Maret 2016) anakku (9 bulan) diputuskan untuk minum obat selama dua tahun untuk menanggulangi kejang nya. Sedih rasanya mendengar itu dari dokter anak sepsialis neurologi anak tadi malam. Kenapa harus anakku? Kalimat yang selalu teringiang dalam pikiran. Dia begitu lincah, sudah bisa berdiri berpegangan, ceria. Tidak tampak bahwa di dalam dirinya terselubung kelainan otak itu, yang mana kata dokter ada kotak-kotak di bagian otak yang berpotensi terjadinya kejang lanjutan, baik tanpa atau dengan demam.

Kejadian itu bermula pada akhir desember lalu (desember 2015), anakku yang memang sedang pilek namun tetap ceria, juga demam yang naik turun kejang untuk pertama kali nya hanya pada suhu 38,5C. Saat itu aku sedang memangkunya sambal minum susu dari dot. Tiba-tiba badangnya kejang, tangan dan kaki tegang, mulut dikatup, tidak sampai 2 menit, kejang sudah berhenti, dan lemas. Sehabis kejang dia BAB kemudian kembali riang ke sana kemari. Kami langsung membawa ke dokter umum terdekat dan diberi obat demam dan anti kejang.

Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 28 Feb 2016, kejang secara tiba-tiba. Kali ini tangannya tegang dikatup, mata melihat ke atas, namun bagian tubuh dari perut ke kaki tidak tegang, biasa saja. Kami tidak berpikiran dia demam, Cuma dia sedang batuk pilek juga sedang rewel karena tumbuh gigi pertama. Kejang nya juga sedang minum susu dari dot, dan maksimal hanya 1 menit. Berhenti dan dia lemas tertidur sebentar. Kami bawa ke dokter umum terdekat, dikasih obat batuk pilek dan anti kejang. Saat itu juga diukur suhu badannya, hanya 36.9C, alias tidak demam. Bingung dan sedih rasanya. Karena say abaca-baca kejang tanpa demam ini yang berpotensi besar untuk terjadi epilepsy.

Kami pun janjian dengan dokter anak pada hari senennya. Dia menyarankan kami EEG. Karena satu dan lain hal, EEG baru dapat kami lakukan pada hari kamis (3 maret 2016) dan hasilnya kami ambil hari sabtu nya. Karena dokter tersebut tidak bisa kami temui hari itu juga, sedangkan kami sudah ingin sekali tau hasilnya, kami pun mendatangi dokter lain, dokter ini yang merawat anak pertamaku dulu ketika di opname karena diare dan kejang. Saya juga baru ingat sama dokter ini, dokter anak spesialisasi neurologist juga. Sabtu itu juga kami datang ke tempat praktik beliau dengan membawa hasil EEG itu. Namun karena dia tidak bisa baca hasil pastinya karena tidak dapat melihat ke sumber rekaman EEG nya, dia pun menyarankan kami EEG ulang ke RS tempat dia bekerja. Ya tidak apa-apa, demi berharap hasilnya beda dan lebih baik, kami pun EEG kembali pada hari senen, 7 maret 2016.

Tanggal 8 maret 2016 pertama kalinya Kevin minum obat itu. Terbayang selalu masih panjangnya perjalanan kami memberi obat itu pada anak kami, pastinya butuh komitmen yang kuat untuk dapat berhasil. Semoga hanya dua tahun, kalu bisa dapat dipersingkat. Berharap tidak terjadi kejang lagi dalam perjalanan 2 tahun ini, supaya anakku tidak lebih lama minum obatnya. Anakku susah sekali minum obat, kasihan melihat dia harus dipaksa untuk minum obat. Apalagi obat ini harus diminum 2 kali sehari. Tuhanlah yang menguatkan anakku dan menyembuhkannya. Mohon doanya siapa pun yang membaca ini.

Berikut hasil eeg dari kedua RS :

  1. Materna,Medan : Kesan menunjukkan kelainan irritatif difus , komentar gambaran EEG dapat sesuai dengan penyakit konvulsi
  2. Elisabeth, medan: kesan EEG menunjukkan lesi iritatif multifocal

Sayangnya saya belum bertanya apa akibatnya buat anak saya dengan hasil eeg seperti itu. Mungkin nanti konsultasi selanjutnya saya akan tanyakan lebih jelas.

Kita tidak dapat memungkiri kalau seorang laki-laki, atau lebih tepatnya seorang yang sudah menjadi bapak, umumnya memiliki pemikiran kalau urus rumah itu adalah istri, apalagi urus anak. Bapak umumnya akan gengsi atau dari sono nya memang sudah punya ego sendiri untuk tidak mau mengurus anak. Jangankan membersihkan pup anak, menggendong di depan umum pun mungkin akan gengsi. Ayo, pasti saat ini masih ada yang begitu kan?

Kebetulan saat ini aku baru saja baca soal pengakuan seorang bapak bahwa sudah bawaan alam sadarnya kalau lelaki itu ego dalam mengurusi rumah, termasuk anak. Punya anak ya sudah punya anak, ya begitu saja. Cukup kewajibannya Cuma urus soal mencari nafkah. Iya, kalau memang si lelaki itu memiliki pekerjaan tetap, atau pekerja keras, walopun tidak memiliki pekerjaan tetap, dan berpikiran bahwa dia akan menafkahi anak istrinya. Tapi, bagaimana pula dengan bapak-bapak yang pekerjaannya tidak menentu, eh masih saja kerjanya Cuma makan tidur saja di rumah. Kalau di orang batak, banyakan nongkrong di lapo. Grrr….semua urusan dilimpahkan ke istri. *Tabok

Nah, kali ini aku mau share kegiatan keseharian keluargaku. Berkaca dari yang sudah aku sebutkan di atas, aku bersyukur sekali memiliki suami seperti suamiku. Suamiku harus merelakan pekerjaan-pekerjaan yang ditawarkan kepadanya, demi bisa menjaga anak-anak kami. Dari anak pertama, suami ku juga yang urus. Ya, sebelumnya sejak saya masih hamil juga, sudah kami diskusikan siapa yang akan menjaga anak kami jika aku sudah melahirkan. Sekarang anak kedua kami baru akan berumur 3 bulan dan anak pertama kami berumur 3 tahun 3 bulan. Oleh karena itu, kebayang dong gimana suamiku repotnya mengurusi anak. Dan hei..bukan sekedar mengurus anak loh, dia juga selalu berusaha untuk beberes rumah. Jadi ketika aku sudah pulang, rumah sudah bersih, itu selalu yang jadi komitmen nya hehe.

Taukah kamu, kalau sekarang anak keduaku sedang bisulan. Sudah hampir sebulan, mati 1, muncul lagi. Gemes. Dan merawat yang bisulan itu pekerjaan yang butuh ketelatenan. Suamiku lah yang melakukanya ketika aku kerja. Bahkan jika aku sudah di rumahpun, aku dan suami masih ganti-gantian memperhatikan anak-anak, terutama anak kedua kami yang dari sejak lahir memang termasuk rewel.

Setiap hari, mulai dari bangun tidur tiap jam 5, kalau anak kedua kami (Kevin) sudah bangun dan minta minum, terpaksa yang masak adalah suami. Jika sambil menyusu Kevin tertidur, bisalah aku bantu beres-beres rumah. Jika tidak, ya sampai nyapu rumah minimal akan dikerjakan oleh suami. Selesai itu, Kevin pindah ke bapaknya, dan aku beres-beres ASIP, sterilisasi perlengkapan ASIP dsb, baru kemudian aku mandi. Pulang dari kantor, Kevin langsung aku yang perhatikan, tidak sempat duduk-duduk manis dulu istirahat, bahkan makan juga curi-curi waktu, maklum suka lapar. Suami membereskan yang lain yang belum sempat dibereskan, termasuk cuci baju, cuci piring, mandiin kakak cilo. Ya, itu karena Kevin maunya digendong atau memang cengeng anaknya. Kami semua jadi rontok badanya rasanya.😀.

Jika dilihat orang, memang pasti mayoritas mencibir suamiku. Dianggap suami yang tidak bisa menafkahi keluarga, atau lainnya. Pernah suatu saat, temanku berujar enak banget suamiku bisa di rumah terus. Kemudian aku jawab bahwa suamiku justru paling capek. Dari kalimat temanku itu, masih banyak kita berpikir, bahwa pekerjaan rumah itu adalah pekerjaan yang enteng. Makanya tidka heran, banyak suami yang beranggapan pekerjaan istri Cuma di rumah enak-enakan. Karena si suami saja yang cari nafkah, sehingga istri dianggap Cuma terima duit. Coba dech para suami di rumah dulu, lakukan rutinitas yang istrimu lakukan, seperti yang sudah dilakukan suamiku, yakin pasti kalian akan berubah pikiran soal pekerjaan mengurus rumah. Jadi, sayangi dan hargailah istrimu. Istri bisa saja mencari duit, namun aku tidak yakin suami sanggup melakukan pekerjaan rumah seperti yang dilakukan istri. Sekali lagi aku katakana, bahwa tidak banyak suami yang sanggup seperti suamiku. Bukan karena dia malas cari nafkah atau tidak sanggup menhidupi keluarga, namun untuk saat ini, begitu dulu kebutuhan kami. Bukankah kebutuhan dan kondisi setiap keluarga beda-beda. Jadi jangan samakan keluarga si A dan si B.

Akhirnya aku berharap, anak-anak kami sehat selalu. Dan suatu saat keluarga kami lebih sejahtera seiring berjalanya waktu, anak-anak sudah besar-besar, dan suami sudah memiliki usaha yang lebih baik untuk tambahan rejeki. Hanya Tuhan yang tau.

Cerita ASI tidak ada habisnya. Sejak mengandung dan akhirnya melahirkan, sekarang berjuang untuk memberikan Kevin ASI semaksimal mungkin. Kenapa aku bilang semaksimal mungkin? Karena ASI ku tidak semelimpah ibu-ibu lain. Sekarang Kevin jalan 3 bulan, hasil pompa ASI sekali pumping dari 2 PD maksimal cuma dapat 100 ml, itu pun jarang, mayoritas cm dapat 80ml. Hiks.

‘Say, makan apa supaya ASI melimpah seperti kamu?’ Katuk banyak-banyak.

‘Eh..sis, kok bisa sih ASImu banyak?’ yang penting rileks,han, jangan stress.

Baca-baca forum ibu-ibu yang bahas ASI, nemu banyak sekali booster ASI.  Mulai dari obat-obatan kimia, sampai minum yang ekstrim, apa tuh? Jus pare dan jus daun pepaya. Kebayang dong dahsyatnya. Namun pengaruh booster ini beda-beda untuk tiap orang. Jadi, harus coba-coba banyak booster dech.

Begitulah kegiatan ku setiap hari terutama di kantor. Tidak pernah ketinggalan baca-baca soal ASI. Aku masih berharap ASI ku bisa lebih baik lagi kuantitasnya. Secara Kevin doyan sekali minum susu. Sudah sampai gumoh, masih aja nangis sambil isap-isap jari, atau memoncong-moncongkan bibirnya.

Ritual memerah ASI di kantor sekarang sudah aku tingkatkan, dari awalnya 2 kali sehari, durasi 3-4jam, sekarang demi meningkatkan kuantitas ASI yang kubawa pulang, aku pumping sampai 3 kali, pakai jam istirahat untuk  pumping sekali. Pastinya total ASI yang kubawa memang lebih banyak. Biasanya kalau pompa dua kali,total cuma dapat mayoritas 160ml. Setelah 3 kali pompa, total dapat 200-240ml. Lumayan kan. Sekarang  Kevin sekali minum 80-90ml tiap 2jam ,bahkan sering tidak sampai 2 jam. Ya tidak seperti bayi-bayi lain, yang sekali minum udah sampai 120ml. Bukan kah kebutuhan tiap bayi itu beda-beda? Read the rest of this entry »

Akhirnya kembali lagi ke kantor setelah hampir 2 bulan aku cuti melahirkan. Aku ingin cerita tentang proses persalinanku yang kedua ini. Tapi sebelum itu, aku ingin bernostalgia dulu saat hamil yang begitu penuh dengan berbagai perburuan informasi seputar hamil, melahirkan, dan ASIP. Aku terinspirasi dengan yang namanya gentle birth, hypnobirthing, lotus birth, dkk. Aku juga terobsesi dengan ASIP. 2 minggu sebelum aku kerja, sudah mulai stok ASI, walopun ASI ku tidak sebanyak ibu-ibu lain, namu tetap semangat. Sekarang di kulkas satu pintuku sudah hampir penuh oleh botol-botol ASIP, puji Tuhan. Tidak gampang untuk memulai ASIP dan semua nya, karena banyak sekali cobaan, termasuk bayiku ternyata lebih cengeng dari kakaknya dulu, belum lagi suamiku kadang susah dikasih pengertian tentang ASI Eksklusif. Bayi nangis, dia pikir masih kurang kenyang, akhirnya dia menuntut untuk dikasih susu formula dan sedikit menyinggung aku tentang ASIku yang kurang katanya. Ahh..sedih..perjuangan banget, rasanya berjuang sendiri untuk memberikan yang terbaik untuk anak. Namun aku tetap memberikan penjelasan pelan-pelan.

Kembali ke pokok bahasan sebelumnya. Tepat tanggal 4 Juni kira-kira jam 1.30 dini hari, aku ngerasa seperti ada rembesan di celana dalamku, aku pikir itu adalah air ketuban. Dalam hati aku berkata bahwa prediksi dokter ternyata tidak meleset, bahwa HPL ku sekitar tanggal 3-4 Juni. Aku dan suami masih tenang-tenang saja. Hingga pada jam 3.30 dini hari, aku ngerasa mules dan ketika aku ke kamar mandi, sudah ada flek darah. Aku bergumam, akhirnya sebentar lagi akan ketemu dengan anak ku Kevin. Ketika hari sudah terang, dan aku memutuskan untuk tidak masuk kantor lagi, aku dan suami menuju klinik bidan. Aku menunjukkan cairan putih tersebut, ternyata bukan air ketuban, melainkan lendir-lendir yang katanya bagus untuk mempermudah persalinan (haha..udah pernah melahirkan, air ketuban masih belum tau bagaimana). Saat itu langsung cek dalam juga, namun pembukaan baru 1. Sudah harap-harap cemas akan melahirkan hari itu juga, ternyata tidak.

Tanggal 5 Juni 2015, besok pagi harinya, sekitar jam 5 aku dan suami tetap melakukan jalan pagi, kali ini lebih jauh lagi, dengan harapan bukaan cepat bertambah. Sesampai di rumah, tidak berapa lama, aku sudah merasakan mules-mules, dan aku mulai menghitung durasi gelombang cinta itu. Sekitar jam 9an, aku merasakan gelombang yang semakin intens dan teratur, dari tiap 10 menit, sampai tiap 5 menit. Akhirnya aku pun telp kak bidan supaya datang dan periksa. Kak bidan datang dan melakukan cek dalam, ternyata bukaan udah 6. Waw..makin deg-degan menunggu bertemu dengan baby Kevin. Saat itu juga, kak bidan ajak kami ke kliniknya.

Sesampainya di klinik, sekitar jam 10 lewat, aku pun baringan, dan menghadap ke kiri, dimana yang pernah aku baca kalau baringan hadap kiri dapat mempercepat bukaan. Aku pun melakukan tidur hadap kiri, rasanya tidak terkatakan nikmatnya. Nyerinya intens sekali hingga rasanya terasa dari kepala sampai ujung kaki. Ketika gelombang itu datang, aku tidak dapat menahan sakitnya, padahal udah banyak baca testimoni ibu-ibu lain yang melakukan gentle birth, supaya hipnotis diri untuk menghadapi rasa gelombang itu, tapi tetap tidak bisa. Mulut ini selalu teriak tiap kali gelombang itu datang. Hingga ketika rasanya aku ingin sekali BAB, sudah tidak bisa ditahan. Ingin sekali ngedan akhirnya aku bilang ke kak bidan ‘kak,aku mau berak!!!!’. Kak bidan pun datang, dan cek dalam, phuewww…sudah bukaan 9 menuju 10. O my God, cepet banget bukanya. Akupun diperbolehkan ngedan. ‘Baik, ngedan lah,dek’ kata kak bidan. Aku pun ngedan sekuat tenaga, aku dapat merasakan si baby Kevin ada di pintu vaginaku, tinggal menunggu mamanya ngedan lebih kuat lagi. Aku ulangi lagi sampai 2 kali, akhirnya Kevin pun lahir, aku dapat merasakan pergeseran di perutku, sampai rasa plong ketika Kevin lahir. Aghh..dapat diibaratkan seperti BAB paling besar dalam hidup hehe. Tepat pukul 11.50 siang hari, Kevin lahir dengan lilitan tali pusar juga seperti kakaknya dulu. Kali ini aku senang sekali, rasanya jauh lebih gampang dibanding kakaknya dulu. Kalau dulu, kakaknya 3 jam kemudian baru lahir.

Tapi rasa senang itu seolah berubah menjadi petaka. Plasenta yang seharusnya langsung dapat lahir, kali ini tidak. Seketika aku tidak merasa khwatir karena aku belum pernah tau kejadian seperti ini. Namun ketika kak bidan mengusahakan segala cara supaya plasenta dapat lahir,namun tidak berhasil, baru aku pun mulai panik. Kak bidan juga menjelaskan akibat dari hal ini. Aku pun terdiam, dalam hati meratapi nasibku, kenapa bisa begini, ketika aku dapat melahirkan dengan mudah. O Tuhan, tolong aku. Pupus sudah semua angan-angan selama hamil, apa yang diharapkan, sangat terbalik dan di luar dugaan. Aku pun pasrah, ketika kak bidan menganjurkan untuk merujuk aku ke rumah sakit terdekat. Segera kak bidan telp ambulance, namun sedang dipakai. Akhirnya kak bidan memakai angkot untuk mengantarku ke rumah sakit. Saat itu kondisiku masih berantakan. Tali pusar penghubung plasenta dijepit, darah-darahku dibersihkan, kemudian aku dipakaikan kain untuk menutupi bagian bawahku. Angkot baru datang pukul 13.30. Bayangkan lamanya dari Kevin lahir, darah terus mengalir. Aku pun digotong ke dalam angkot oleh 4 orang termasuk suamiku. Rasa iba terhadap diri sendiri menyelimuti jiwaku. Selama dalam angkot, mataku menerawang kosong, yang aku ingat hanya Tuhan dan bayiku di klinik. Sedih rasanya meninggalkan dia sendiri di situ.

Sampai di rumah sakit pukul 14.00, langsung ke UGD. Di sini lah saat-saat paling mengerikan dalam hidupku. Awalnya aku tidak tau bagaimana proses mengeluarkan plasenta ini. Aku tetap tenang. Pertama-tama bidan imut ini memasukkan tangan imut nya ke dalam vaginaku, cek sana-sini. Dia juga coba memasang kateter ke saluran kencingku siapa tau ada urine yang menumpuk sehingga menghalangi plasenta keluar, tertnyata tidak. Cek permulaan ini, selesai. Akhirnya dia berkata ‘kak, kali ini lebih sakit, tahan ya, o ya, minum teh manis dulu, supaya ada tenaga’, sambil dia meminta suami belikan teh manis untuk ku. Kemudian dia pun memasukkan tangannya ke dalam vaginaku lebih dalam lagi dan lagi, dapat aku katakan sakitnya sampai langit ketujuh, aku ingin mati saja rasanya. Yang menguatkanku adalah Kevin yang sendirian di sana. Dia butuh ibunya, dan aku juga belum menciumnya, belum menyusuinya, belum memeluknya. Ahh…mengalir lagi air mata ini. Proses itu rasanya berjalan lama sekali, ingin sekali aku menendang bidan ini, tapi di lain pihak,aku ingin sekali cepat pulih dan kembali di tengah keluargaku, membawa Kevin ke rumah. Beberapa bidan pendamping menguatkanku dengan kata-kata biijak, agar aku semangat dan tidak menyerah. Suami di sampingku sambil memberiku minum teh manis. Selama proses mengeluarkan plasenta itu, aku terus teriak sekuat-kuatnya, menyebut nama Yesus. Sakit sekali rasanya. Rahimku diubeg-ubeg oleh tangan mungilnya, rasanya seperti gelombang laut gerakanya.Aku bisa merasakannya. Dalam hati juga,aku minta tolong pada plasenta supaya mau cepat-cepat keluar. Tidak henti-hentinya para bidan memberi semangat, dan bilang aku hebat, tinggal sedikit lagi katanya. Dan saat itu pun, rasanya aku juga ingin mengakhiri semua.

Akhirnya sekitar pukul 15.30, pengeluaran plasenta ini selesai. Jaringan vaginaku dijahit oleh bidan yang sama. Aku terkulai lemas, ingin rasanya menutup mata ini. Namun ketika aku menutup mata, bidan itu langsung melarang. Aku tidak diperbolehkan untuk tidur,hingga 2 jam kedepan. Adek-adekku dan Cilo datang ketika vaginaku selesai dijahit. Aku menangis melihat mereka. Adiku bilang, aku pucat sekali dan lemas, maklumlah sudah seberapa banyak darahku terbuang hiks. Mereka dianjurkan untuk tetap membuat aku tidak tertidur dulu.

Malamnya aku USG untuk cek apakah plasenta sudah benar-benar bersih. Puji Tuhan, sudah bersih kata dokter, sehingga tidak perlu ada tindakan lain lagi. Cuma 1 malam aku di rumah sakit, aku sudah bisa jalan dan sehat, sehingga sudah boleh pulang. waktu yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku dapat menjemput Kevin. Haru rasanya. Sampai di rumah, aku menangis lagi di depan mertua yang menyambutku dengan rasa iba dan memelukku.Kevin langsung digendong mertua. Akhirnya berkumpul juga dengan keluarga.

Saat ini umur kandunganku sudah memasuki 40 minggu. Sesekali rasa mules seperti haid sudah mulai aku rasakan. Ada firasat dan keinginan bahwa aku akan melahirkan lebih cepat, mungkin saja minggu depan. Hal ini juga aku bicarakan kepada janinku baik itu dalam hati maupun ngomong secara verbal (konyol memang :D). Seperti postinganku sebelumnya, hal-hal indah aku bayangkan ketika aku melahirkan nanti. Seperti dapat melahirkan lebih cepat dan mudah dengan rasa sakit yang lebih ringan dibanding kelahiran anak pertamaku dulu, kemudian melakukan IMD yang lebih lama dan intim dengan semua proses IMD yang sepatutnya tidak dilewatkan.

Untuk mencapai proses melahirkan yang mudah dan lancar serta dapat mengurangi sakitnya, aku sudah banyak membaca soal hypnobirthing, relaksasi, induksi alami (pijat endhorpin, stimulasi payudara, berhubungan suami istri, dll), dan olahraga seperti jalan kaki. Semua tentang itu tidak bosan aku baca. Prakteknya sudah sering aku lakukan demi tercapainya keinginan persalinan yang normal. Relaks dan percaya diri saat ini menjadi tujuan utamaku. Ketika kontraksi palsu menghadang, aku dapat latihan untuk rileks dan mensugesti diriku untuk memikirkan hal-hal yang indah demi berkurangnya rasa sakit. Di rumah juga hampir tiap hari aku minta dibelai-belai (pijat endorphin) oleh suami hehe. Rasanya enak dan rileks.

Hari ini, tanggal 2 Juni 2015, sehari menuju HPL yaitu tanggal 3 Juni 2015, sama sekali belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Aku Cuma merasa mules sesekali, keputihan, BAK dan BAB lebih sering. Terus terang hati dan pikiran sudah mulai gundah. Aku perbanyak bicara dengan bayi di dalam dan berdoa, supaya semua sehat-sehat, kapanpun bayi ingin lahir. Aku selalu mencoba untuk berpikir positif dan menyemangati diriku dengan membaca berbagai artikel dan testimoni ibu-ibu lainnya yang aku dapat dari inernet. Berjalan kaki pagi dan sore, jongkok berdiri, ML dengan suami,mandi air hangat, makan nenas dan pedas masih aku lakukan demi tercapainya induksi alami. Ahh…semoga tidak terjadi apa-apa. Toh melahirkan sampai 42 minggu juga masih bisa ditolerir. Ayo,dedek bayi, cari jalan ya,sayang, yuk cepat-cepat ketemu mama, bapak dan kak Cilo. O iya, tidak ketinggalan, sayur bangun-bangun di belakang rumah udah ada yg mulai menguning karena semakin tua hehe. Ya, mama percaya kamu,nak.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 657 other followers