gabemahita

Archive for the ‘Love’ Category

Ulang tahun Kevin yang ke-2 sudah berlalu, tepat hari senin, tgl 5 Juni 2017. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan Kevin makin banyak perkembangan. Saat ini yang suka dia lakukan adalah menggiring-giring sepeda warna pink nya (bekas kakaknya dulu) keluar masuk rumah, dan sesekali jika pagar rumah terbuka, diam-diam dia akan keluar sambil menggiring sepeda itu. Secara diam-diam pula, dia akan menyiram bunga dan sepedanya. Namun jika sudah ketauan sama mama, bapa atau kakaknya, dia akan langsung menjauh dari keran air itu, anak pintar. Kesukaannya menyiram sepeda seolah-olah akan membersihkan sepeda, atau menyiram bunga sampai pot nya penuh dengan air karna seringnya dia melihat kami melakukannya.

Sekarang-sekarang ini kedua kakak beradik itu, Cilo dan Kevin, sering menunjukkan rasa cemburu satu sama lain. Jika Kevin digendong dan dimanja-manja sama mama atau bapaknya, maka Cilo akan minta digituin juga. Begitu pula sebaliknya, misalnya jika bapak memeluk Cilo, Kevin akan mendekat sambil menunjukkan ekspresi tidak suka sambil berteriak. Hahaha…lucu. Apalagi jika Kevin melihat mama bapanya berpelukan atau cipika cipiki, atau agak mesra, Kevin akan datang dan memukul kami, atau nangis kencang. Aduh aduh…

Kebiasaan Kevin yang lain adalah dia sangat antusias melihat mobil. Jika ada suara mobil, dia akan berlari ke pintu dan menunggu mobil lewat, dia akan berdiri di situ terus atau bahkan akan ke pagar sambil menunggui mobil tersebut. Paling membuat ga enak adalah jika mama atau bapa nya bawa Kevin jalan-jalan komplek, dan ada mobil tetangga atau mobil yang sedang parker di pinggir jalan, dia akan memegangi mobil itu, mencium dan minta dibukain pintu supaya dia bisa masuk ke dalam mobil. Bikin malu dech..tapi begitulah anak-anak ya. Doakan ya,nak..kita ada rejeki supaya bisa beli mobil hehe. Amin.

Shiloh saat ini sudah mulai bisa membaca dan menulis juga berhitung, walaupun bacanya  masih mengeja. Saya memang sudah mengajarinya sedikit-sedikit dari 1 tahun yang lalu tanpa mematok porsi belajarnya agar kelak dia masuk TK maka dia sudah punya dasar. Bulan 7 nanti dia akan masuk langsung ke TK B, semoga dia bisa menikmati sekolahnya. Perasaanku kadang deg-deg-an jika memikirkan Cilo akan sekolah. Pikiran tentang dia mampu atau tidak , teman-temannya baik atau tidak, guru-guru nya perhatian atau tidak, tapi semoga Cilo bisa menyesuaikan diri. Good luck,boru.

Sekian dulu update kegiatan anak-anakku. Semoga tahun ini tahun yang banyak bawa berkat buat kita.

Belakangan ini pikiran begitu banyak, begitu tinggi, sampai2 hampir lupa untuk berpijak ke bumi kembali. Banyak keinginan yang ingin dicapai, entah memang suatu kebutuhan atau ego semata. Sudah 1 tahun 6 bulan suami tidak mencari nafkah sejak kelahiran anak kedua kami. Ya, memang karena menjaga anak-anak. Dan selama itu pula pastinya pendapatan berkurang. Karena itulah, sekarang menurut kami sudah saat nya suami kembali berkiprah..syah.. entah itu kembali meneruskan karirnya dipertukangan baik bangunan atau mebel, atau mencoba berdagang atau bisnis rental atau travel. Ahh..hal ini lah yang menjadi pergumulan kami saat ini. Walaupun keinginan itu kuat, namun di sisi lain, anakku gimana? Pastinya bakal dititip ke orang, tapi tapi.. hati ini kembali gundah.

Feuuhhh..dari pada mikirin di lingkaran bagaimana menambah rejeki terus, mending aku mencoba meniti semua kepintaran anakku Kevin dulu.

Kevin, si abang barat, si botak (sekarang sedang botak sudah beberapa hari, yang akhirnya memberikan kesan badung di wajahnya hehe), sehat terus yang pasti. Sudah hampir 2 bulan ini tidak ada keluhan sakit setelah sebelumnya sambung menyambung dari demam, batpil, diare, batpil lagi. Kevin yang saa ini sudah mulai berjalan walaupun harus dijaga sepanjang dia jalan, karena masih kurangnya keberanian atau percaya diri nya. Setiap anakku ingin berjalan, dia akan menarik tanganku atau papanya, yang artinya ‘ma/pa, jagain aku ya’. Kemudian aku atau papanya pun akan mengikutinya dari belakang tanpa memegang tubuhnya, namun ketika dia mulai agak oleng, baru kami akan menopang sedikit tubuhnya agar kembali seimbang. Pegal pasti. Namun terbayarkan jika dia sudah mulai lihai dalam berjalan. Ada kalanya Kevin tidak sadar sudah berjalan tanpa dipantau atau berdiri tanpa bersandar. Sesaat kemudian jika fokusnya kembali bahwa dia sedang berjalan atau berdiri sendiri, saat itu pula dia akan gamang dan secepatnya berpegangan atau langsung duduk. Haihhh ..ayo dong,nak, kapan bisanya? Aku dan suami sering berpendapat bahwa Kevin sebenarnya atau semestinya sudah bisa jalan, sebab dia sudah berani naik turun sofa, berjinjit sampai ke ujung kakinya untuk menggapai benda dari ketinggian, sudah berani menggiring sepedanya seperti anak yang sudah bisa jalan. Terserah kamu lah,nak, kami tunggu dengan sabar ya, ketika kita berjalan bersama di suatu saat nanti tanpa dibimbing.

Dua hari yang lalu, ketika kakaknya Cilo minum susu kotak pakai sedotan, Kevin pun seperti biasa mendekati kakaknya seolah minta. Kemudian aku langsung mendekatkan sedotan susu tersebut ke mulutnya, dia pun mulai menggigiti sedotannya hehe. Beberapa kali kami contohkan, akhirnya Kevin mulai bisa menyedot, ahh..aku dengan senangnya tertawa sambal bilang ‘pintar’ dia pun keenakan. Keesokan harinya ketika Kakaknya minum susu kotak lagi, dia pun ikutan minum, menyedot dengan sedotan kali ini lebih baik dan akhirnya Kevin bisa minum pakai sedotan..horeee..good job, anak mama!

Hampir di hari yang sama, ketika kami sedang nonton tivi bareng, aku, papanya, Cilo,Kevin di pangkuanku. Tiba-tiba ada 1 kata keluar dari mulutnya mirip kata ‘doa’, sambil melipat tangan walaupun tidak sempurna untuk sikap berdoa, termangu sebentar mencoba menangkap apa yg dia maksud, aku pun langsung mengucapkan doa singkat seperti ‘Ya Tuhan, berkati Kevin, Ammeenn’, selesai, langsung lipatan tanganya dibuka..Ahh…amazing, bertubi-tubi kepintarannya muncul, membuat kami amaze-lah. Bayi-anak itu memang cerdas, ketika kebiasaan yang dilakukan orang di sekitarnya terutama orang tuanya sudah melekat di pikiranya, anak pasti cepat belajar. Sungguh luar biasa. Makanya kata literature, usia di bawah 5 tahun sebaiknya banyak melakukan stimulasi karena syaraf otak anak sedang berkembang, sangat cepat. Waww…

Tidak bisa dihitung kemajuan-kemajuan yang dilakukan anak, itu semua adalah anugerah. Di atas segalanya, sehat selalu adalah doa terbesar buat anak-anak. Jika anak sudah sakit, pikiran tidak tenang.  Mommy loves both of you, My Cilo Kevin.

Sudah hampir dua bulan Kevin menjalani terapi obat untuk menanggulangi kejangnya. Tidak ada perbedaan yang tampak pada dirinya, dia seperti anak lainnya. Ceria, penuh energi, ngoceh macem-macem, suka sekali melempar dan goyang apalagi kalau sudah mendengarkan music, duduk berdiri dan merambat, semua itu tidak membuatnya capek.  Cuma, seminggu lalu dia sempat mogok makan dan minum susu termasuk menyusu langsung dari mama, karena gigi atasnya sedang tumbuh sekaligus 3. Dia menangis dan cengeng, hingga kami antara tidur ga tidur. Namun yang paling parah Cuma berlangsung 1 hari. Besoknya dia sudah mau minum susu dari botol, tetap tidak mau menyusu langsung, bahkan sampai sekarang, dikala porsi minum susunya lebih banyak dari sebelumnya dan makan sudah mulai membaik.  Apakah ini pertanda dia sudah tidak mau ASI langsung lagi? Mungkin saja iya. Karena memang produksi ASI sudah mulai sedikit, aku pun sudah mulai jarang pompa, hanya demi membuat nyaman payudara. Sekarang pompa ASI  cuma 2 kali dalam 24 jam, sekali pompa hanya dapat setengah botol kaca UC1000. Tidak apa-apa lah, semoga Kevin sehat-sehat.

Akhirnya kembali lagi ke kantor setelah hampir 2 bulan aku cuti melahirkan. Aku ingin cerita tentang proses persalinanku yang kedua ini. Tapi sebelum itu, aku ingin bernostalgia dulu saat hamil yang begitu penuh dengan berbagai perburuan informasi seputar hamil, melahirkan, dan ASIP. Aku terinspirasi dengan yang namanya gentle birth, hypnobirthing, lotus birth, dkk. Aku juga terobsesi dengan ASIP. 2 minggu sebelum aku kerja, sudah mulai stok ASI, walopun ASI ku tidak sebanyak ibu-ibu lain, namu tetap semangat. Sekarang di kulkas satu pintuku sudah hampir penuh oleh botol-botol ASIP, puji Tuhan. Tidak gampang untuk memulai ASIP dan semua nya, karena banyak sekali cobaan, termasuk bayiku ternyata lebih cengeng dari kakaknya dulu, belum lagi suamiku kadang susah dikasih pengertian tentang ASI Eksklusif. Bayi nangis, dia pikir masih kurang kenyang, akhirnya dia menuntut untuk dikasih susu formula dan sedikit menyinggung aku tentang ASIku yang kurang katanya. Ahh..sedih..perjuangan banget, rasanya berjuang sendiri untuk memberikan yang terbaik untuk anak. Namun aku tetap memberikan penjelasan pelan-pelan.

Kembali ke pokok bahasan sebelumnya. Tepat tanggal 4 Juni kira-kira jam 1.30 dini hari, aku ngerasa seperti ada rembesan di celana dalamku, aku pikir itu adalah air ketuban. Dalam hati aku berkata bahwa prediksi dokter ternyata tidak meleset, bahwa HPL ku sekitar tanggal 3-4 Juni. Aku dan suami masih tenang-tenang saja. Hingga pada jam 3.30 dini hari, aku ngerasa mules dan ketika aku ke kamar mandi, sudah ada flek darah. Aku bergumam, akhirnya sebentar lagi akan ketemu dengan anak ku Kevin. Ketika hari sudah terang, dan aku memutuskan untuk tidak masuk kantor lagi, aku dan suami menuju klinik bidan. Aku menunjukkan cairan putih tersebut, ternyata bukan air ketuban, melainkan lendir-lendir yang katanya bagus untuk mempermudah persalinan (haha..udah pernah melahirkan, air ketuban masih belum tau bagaimana). Saat itu langsung cek dalam juga, namun pembukaan baru 1. Sudah harap-harap cemas akan melahirkan hari itu juga, ternyata tidak.

Tanggal 5 Juni 2015, besok pagi harinya, sekitar jam 5 aku dan suami tetap melakukan jalan pagi, kali ini lebih jauh lagi, dengan harapan bukaan cepat bertambah. Sesampai di rumah, tidak berapa lama, aku sudah merasakan mules-mules, dan aku mulai menghitung durasi gelombang cinta itu. Sekitar jam 9an, aku merasakan gelombang yang semakin intens dan teratur, dari tiap 10 menit, sampai tiap 5 menit. Akhirnya aku pun telp kak bidan supaya datang dan periksa. Kak bidan datang dan melakukan cek dalam, ternyata bukaan udah 6. Waw..makin deg-degan menunggu bertemu dengan baby Kevin. Saat itu juga, kak bidan ajak kami ke kliniknya.

Sesampainya di klinik, sekitar jam 10 lewat, aku pun baringan, dan menghadap ke kiri, dimana yang pernah aku baca kalau baringan hadap kiri dapat mempercepat bukaan. Aku pun melakukan tidur hadap kiri, rasanya tidak terkatakan nikmatnya. Nyerinya intens sekali hingga rasanya terasa dari kepala sampai ujung kaki. Ketika gelombang itu datang, aku tidak dapat menahan sakitnya, padahal udah banyak baca testimoni ibu-ibu lain yang melakukan gentle birth, supaya hipnotis diri untuk menghadapi rasa gelombang itu, tapi tetap tidak bisa. Mulut ini selalu teriak tiap kali gelombang itu datang. Hingga ketika rasanya aku ingin sekali BAB, sudah tidak bisa ditahan. Ingin sekali ngedan akhirnya aku bilang ke kak bidan ‘kak,aku mau berak!!!!’. Kak bidan pun datang, dan cek dalam, phuewww…sudah bukaan 9 menuju 10. O my God, cepet banget bukanya. Akupun diperbolehkan ngedan. ‘Baik, ngedan lah,dek’ kata kak bidan. Aku pun ngedan sekuat tenaga, aku dapat merasakan si baby Kevin ada di pintu vaginaku, tinggal menunggu mamanya ngedan lebih kuat lagi. Aku ulangi lagi sampai 2 kali, akhirnya Kevin pun lahir, aku dapat merasakan pergeseran di perutku, sampai rasa plong ketika Kevin lahir. Aghh..dapat diibaratkan seperti BAB paling besar dalam hidup hehe. Tepat pukul 11.50 siang hari, Kevin lahir dengan lilitan tali pusar juga seperti kakaknya dulu. Kali ini aku senang sekali, rasanya jauh lebih gampang dibanding kakaknya dulu. Kalau dulu, kakaknya 3 jam kemudian baru lahir.

Tapi rasa senang itu seolah berubah menjadi petaka. Plasenta yang seharusnya langsung dapat lahir, kali ini tidak. Seketika aku tidak merasa khwatir karena aku belum pernah tau kejadian seperti ini. Namun ketika kak bidan mengusahakan segala cara supaya plasenta dapat lahir,namun tidak berhasil, baru aku pun mulai panik. Kak bidan juga menjelaskan akibat dari hal ini. Aku pun terdiam, dalam hati meratapi nasibku, kenapa bisa begini, ketika aku dapat melahirkan dengan mudah. O Tuhan, tolong aku. Pupus sudah semua angan-angan selama hamil, apa yang diharapkan, sangat terbalik dan di luar dugaan. Aku pun pasrah, ketika kak bidan menganjurkan untuk merujuk aku ke rumah sakit terdekat. Segera kak bidan telp ambulance, namun sedang dipakai. Akhirnya kak bidan memakai angkot untuk mengantarku ke rumah sakit. Saat itu kondisiku masih berantakan. Tali pusar penghubung plasenta dijepit, darah-darahku dibersihkan, kemudian aku dipakaikan kain untuk menutupi bagian bawahku. Angkot baru datang pukul 13.30. Bayangkan lamanya dari Kevin lahir, darah terus mengalir. Aku pun digotong ke dalam angkot oleh 4 orang termasuk suamiku. Rasa iba terhadap diri sendiri menyelimuti jiwaku. Selama dalam angkot, mataku menerawang kosong, yang aku ingat hanya Tuhan dan bayiku di klinik. Sedih rasanya meninggalkan dia sendiri di situ.

Sampai di rumah sakit pukul 14.00, langsung ke UGD. Di sini lah saat-saat paling mengerikan dalam hidupku. Awalnya aku tidak tau bagaimana proses mengeluarkan plasenta ini. Aku tetap tenang. Pertama-tama bidan imut ini memasukkan tangan imut nya ke dalam vaginaku, cek sana-sini. Dia juga coba memasang kateter ke saluran kencingku siapa tau ada urine yang menumpuk sehingga menghalangi plasenta keluar, tertnyata tidak. Cek permulaan ini, selesai. Akhirnya dia berkata ‘kak, kali ini lebih sakit, tahan ya, o ya, minum teh manis dulu, supaya ada tenaga’, sambil dia meminta suami belikan teh manis untuk ku. Kemudian dia pun memasukkan tangannya ke dalam vaginaku lebih dalam lagi dan lagi, dapat aku katakan sakitnya sampai langit ketujuh, aku ingin mati saja rasanya. Yang menguatkanku adalah Kevin yang sendirian di sana. Dia butuh ibunya, dan aku juga belum menciumnya, belum menyusuinya, belum memeluknya. Ahh…mengalir lagi air mata ini. Proses itu rasanya berjalan lama sekali, ingin sekali aku menendang bidan ini, tapi di lain pihak,aku ingin sekali cepat pulih dan kembali di tengah keluargaku, membawa Kevin ke rumah. Beberapa bidan pendamping menguatkanku dengan kata-kata biijak, agar aku semangat dan tidak menyerah. Suami di sampingku sambil memberiku minum teh manis. Selama proses mengeluarkan plasenta itu, aku terus teriak sekuat-kuatnya, menyebut nama Yesus. Sakit sekali rasanya. Rahimku diubeg-ubeg oleh tangan mungilnya, rasanya seperti gelombang laut gerakanya.Aku bisa merasakannya. Dalam hati juga,aku minta tolong pada plasenta supaya mau cepat-cepat keluar. Tidak henti-hentinya para bidan memberi semangat, dan bilang aku hebat, tinggal sedikit lagi katanya. Dan saat itu pun, rasanya aku juga ingin mengakhiri semua.

Akhirnya sekitar pukul 15.30, pengeluaran plasenta ini selesai. Jaringan vaginaku dijahit oleh bidan yang sama. Aku terkulai lemas, ingin rasanya menutup mata ini. Namun ketika aku menutup mata, bidan itu langsung melarang. Aku tidak diperbolehkan untuk tidur,hingga 2 jam kedepan. Adek-adekku dan Cilo datang ketika vaginaku selesai dijahit. Aku menangis melihat mereka. Adiku bilang, aku pucat sekali dan lemas, maklumlah sudah seberapa banyak darahku terbuang hiks. Mereka dianjurkan untuk tetap membuat aku tidak tertidur dulu.

Malamnya aku USG untuk cek apakah plasenta sudah benar-benar bersih. Puji Tuhan, sudah bersih kata dokter, sehingga tidak perlu ada tindakan lain lagi. Cuma 1 malam aku di rumah sakit, aku sudah bisa jalan dan sehat, sehingga sudah boleh pulang. waktu yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku dapat menjemput Kevin. Haru rasanya. Sampai di rumah, aku menangis lagi di depan mertua yang menyambutku dengan rasa iba dan memelukku.Kevin langsung digendong mertua. Akhirnya berkumpul juga dengan keluarga.

Saat ini umur kandunganku sudah memasuki 40 minggu. Sesekali rasa mules seperti haid sudah mulai aku rasakan. Ada firasat dan keinginan bahwa aku akan melahirkan lebih cepat, mungkin saja minggu depan. Hal ini juga aku bicarakan kepada janinku baik itu dalam hati maupun ngomong secara verbal (konyol memang :D). Seperti postinganku sebelumnya, hal-hal indah aku bayangkan ketika aku melahirkan nanti. Seperti dapat melahirkan lebih cepat dan mudah dengan rasa sakit yang lebih ringan dibanding kelahiran anak pertamaku dulu, kemudian melakukan IMD yang lebih lama dan intim dengan semua proses IMD yang sepatutnya tidak dilewatkan.

Untuk mencapai proses melahirkan yang mudah dan lancar serta dapat mengurangi sakitnya, aku sudah banyak membaca soal hypnobirthing, relaksasi, induksi alami (pijat endhorpin, stimulasi payudara, berhubungan suami istri, dll), dan olahraga seperti jalan kaki. Semua tentang itu tidak bosan aku baca. Prakteknya sudah sering aku lakukan demi tercapainya keinginan persalinan yang normal. Relaks dan percaya diri saat ini menjadi tujuan utamaku. Ketika kontraksi palsu menghadang, aku dapat latihan untuk rileks dan mensugesti diriku untuk memikirkan hal-hal yang indah demi berkurangnya rasa sakit. Di rumah juga hampir tiap hari aku minta dibelai-belai (pijat endorphin) oleh suami hehe. Rasanya enak dan rileks.

Hari ini, tanggal 2 Juni 2015, sehari menuju HPL yaitu tanggal 3 Juni 2015, sama sekali belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Aku Cuma merasa mules sesekali, keputihan, BAK dan BAB lebih sering. Terus terang hati dan pikiran sudah mulai gundah. Aku perbanyak bicara dengan bayi di dalam dan berdoa, supaya semua sehat-sehat, kapanpun bayi ingin lahir. Aku selalu mencoba untuk berpikir positif dan menyemangati diriku dengan membaca berbagai artikel dan testimoni ibu-ibu lainnya yang aku dapat dari inernet. Berjalan kaki pagi dan sore, jongkok berdiri, ML dengan suami,mandi air hangat, makan nenas dan pedas masih aku lakukan demi tercapainya induksi alami. Ahh…semoga tidak terjadi apa-apa. Toh melahirkan sampai 42 minggu juga masih bisa ditolerir. Ayo,dedek bayi, cari jalan ya,sayang, yuk cepat-cepat ketemu mama, bapak dan kak Cilo. O iya, tidak ketinggalan, sayur bangun-bangun di belakang rumah udah ada yg mulai menguning karena semakin tua hehe. Ya, mama percaya kamu,nak.

Malas, sungguh malas belakangan ini. Mau beraktifitas malas. Mungkin memang bawaannya orang hamil juga kali ya. Ya, saat ini saya sedang hamil. Umurnya jalan 2 bulan. Akhirnya. Setelah berhenti KB sejak April kemaren. Mulai september sama sekali tidak haid lagi. Dan setelah perasaan ga enak, sering mual, perut makin besar, dan badan selalu kurang bersemangat, akhirnya sabtu pagi, tanggal 11 kemaren aku langsung testpack sesaat setelah bangun tidur. Dan hasilnya langsung 2 garis dengan jelas nya.

Aku berharap hamil kali ini tidak separah hamil pertamaku. Hamil pertama mual dan muntah dengan dahsyatnya sampai2 tidak bisa makan, dan rasa2nya mau pingsan. Hamil kali ini puji Tuhan sampai sekarang masih bisa melakukan aktifitas dengan wajar, makan juga banyak. Mudah2an sehat-sehat, tidak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan, karena untuk saat ini saja sudah butuh uang ekstra untuk keperluan hamil. Jika sampe2 memerlukan tindakan khusus, dari mana uangnya? Semoga keluargaku ditambahkan rejekinya, khususnya melalui suamiku. Amin ya Tuhan.

Tags:

Jaman sekarang dimana semua serba instan termasuk makanan sudah banyak yang diproduksi oleh pabrik, banyak polusi sehingga tidak heran bagi kita mudah jatuh sakit, dan tingkat kematianpun meningkat. Sudah jarang berumur panjang. Untuk itu orang tua jaman sekarang juga berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sebisa mungkin semua makanan nya serba alami dan masak sendiri demi menghindari sakit. Namun, usaha manusia ada batasnya, belum lagi anak apalagi umurnya masih 2 tahunan,seperti anak saya.

Seminggu ini mulai dari libur bersama lebaran, anak saya tidak bisa dikontrol, baik itu makanan dan aktifitasnya. Karena keluarga datang dan keponakan datang berlibur, maka anakku seperti punya kebebasan, aktifitas dan makanannya, karena sudah serba sibuk di rumah, dan seharian jalan2, panas terik. Hasilnya hari selasa tanggal 29 juli, lebaran kedua, malam harinya, anak saya jatuh sakit, demam dan menceret. Aku terapi di rumah saja, akhirnya pulih, hari kamis. Hal yang membuatku merasa bersalah dan bodoh adalah, baru sembuh dari demam, jumat pagi itu anak saya mandi air dingin. Jadilah demam lagi ditambah dengan muntah.

Saya khawatir sepanjang jumat itu anak saya tidak mau makan, muntah jalan terus. Akhirnya saya bawa berobat ke dokter umum dekat rumah, dikasih paracetamol dan obat diare berupa serbuk, bodohnya aku, aku tidak tau serbuk itu obat jenis apa. Jumat tengah malam,anak saya terbangun dengan keadaan kejang. Tangan dikepal, telapak kaki ditekuk, mulut ditutup rapat dan mata melihat ke atas. Siapa yang tidak panik melihat anak begitu? Sejak dari situ, 3 kali anak saya terbangun sampai pagi, 3 sebanyak itu pula anak saya kejang. Ya Tuhan, apa ini? Sabtu pagi itu langsung saya dan suami ke rumah sakit Stella Maris Medan dan konsultasi dengan dokter anak. Oleh dokter dikasih cairan berupa oralit, obat kejang dan obat muntah menceret. Tidak lupa aku juga menunjukkan obat yang kudapat dari dokter umum sebelumnya. Yang dokter anak ini curigai adalah obat serbuk tersebut. Karena di situ tidak ada tertulis itu obat jenis apa dan menurut dia ada obat yang bisa menyebabkan kejang, jika tubuh pasien tidak dapat mentolerir obat tersebut. Hal ini dicurigai karena saat itu anak saya tidak demam lagi. Sekalian di sana juga test darah untuk cek eletrolitnya, semua baik2 saja. Read the rest of this entry »