gabemahita

Suamiku Hebat

Posted on: June 24, 2014


Ide untuk menulis postingan ini datang dari kesadaranku bahwa ternyata selama ini suamiku telah menjadi suami yang hebat, walaupun aku yang masih berlaku sebagai tulang punggung keluarga. Aku mengakui hal ini bukan dengan gampang, karena kita pasti setuju bahwa saat ini uang adalah segalanya. Aku sering membanding2kan hidupku dengan keluarga yang lain, suami mapan, istripun mapan, enak bukan? Tapi ternyata semua juga ada plus minusnya. Suami  si A mapan, namun rumah tangga tidak harmonis. Suami si B tidak punya pekerjaan tetap, hanya istri sebagai tulang punggung, namun sejauh ini semua masih baik2 saja.

Apa yang terjadi ke depan, tidak ada seorang pun yang tau. Semua tergantung atas kehendak Yang di Atas. Benar kata pepatah, dunia ini seperti roda, kehidupan kita kadang di atas bisa juga di bawah. Dengan berbekal ini, aku optimis bahwa suamiku akan mampu menambah rejeki keluarga kami, bahkan melebihi apa yang bisa kudapat.

Pelan-pelan aku mengetahui bakatnya. Dia bisa menjadi tukang bangunan atau tukang perabot. Sementara ini dia melakoni dua profesi tersebut.  Namun, pekerjaan untuk itu kan sesuai dengan permintaan orang. Tidak ada yang menawarkan pekerjaan, suamiku tidak bekerja. Bisa jaga anak di rumah dulu. Begitulah kami saat ini, apalagi penjaga anak sudah 3 minggu tidak ada, menambah kebimbangan kami mencari penjaga anak lagi. Namun mau tidak mau, anak tetap harus dititip, supaya suami dapat memperdalam keahliannya lagi.

O ya, kembali lagi pada keahlian suamiku. Jadi, klo ada kerusakan di rumah, kami tidak pernah memanggil tukang lagi, semua suami yang mengerjakan. Jadi aku juga suka mencari2 ide mau bikin apa lagi di rumah.  Dari membuat lantai halaman depan, sekalian dengan pot bunga dari bata, melantai sebagian halaman belakang sekalian membuat tempat cuci baju dan membuat atapnya. Membuat rak tempat bumbu2 dan toples di dapur, sekalian mengganti cat dapur. O iya, membuat sekat dapur dan ruang tengah juga suamiku. Suka dech klo semua dikerjakan sendiri.

Nah, dari keahliannya itu, aku lebih tertarik dia mendalami furniture/mebel, karena pekerjaanya menurutku lebih ringan dibanding bangunan. Untuk itu, rencananya aku pengen dibuatin kitchen set, mumpung belum punya. Nantinya kitchen set buatannya bisa dijadikan sebagai bahan promosi..asyikkk… Mudah2n bisa menjadi batu loncatan untuk lebih dikenal orang, supaya dapat merambah menjadi pebisnis perabotan. Kecil dulu baru besar, berrakit2 dahulu, bersenang-senang kemudian. Bukan kah begitu ?

Sebagai manusia, apalagi perempuan, aku sering tidak sabaran, karena biaya hidup makin mahal, sering banget aku ngomel ke dia, atau aku yang stress sendiri, karena pekerjaannya belum tentu selalu ada, otomatis tambahan uang dari suami tidak selalu ada. Aduh! Yang perlu dilakoni dan selalu belajar di hidup ini hanyalah rasa syukur. Semoga tidak lupa bahwa Tuhan itu baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: