gabemahita

Archive for the ‘Sharing’ Category

Beberapa bulan ini sangat tertarik dengan pekerjaan yang berhubungan dengan permebelan atau perkayuan. Sehingga saya sering sekali browsing soal ini, dari cara pembuatan hingga finishing. Sepertinya saya sudah terobsesi dengan permebelan, ditambah lagi suami memang bisa dalam hal pertungan baik kayu ataupun bangunan. Tidak jarang saya pun menunjukkan tutorial-tutorial kepada suami saya supaya sama-sama belajar.

Sebelumnya suami saya sudah membuatkan beberapa barang-barang yang kami butuhkan, seperti rak untuk penyimpanan barang-barang perlengkapan masak di dapur, tempat obat, lemari gantung yang kami gunakan sebagai gudang kecil, lemari pakaian, hingga mainan untuk anak-anak kami (sudah saya post). Semua itu belum difinishing seperti layaknya finishing mebel yang bagus, baru sekedar di cat biasa. Nah..saat ini baru selesai 1 set meja belajar dengan 2 bangku untuk anak-anak kami yang kami beri finishing.

Jadi ceritanya kami ingin membuat meja belajar untuk anak-anak sudah sejak beberapa bulan belakangan, namun karna berbagai kendala akhirnya baru kita mulai dalam 1 bulan ini dan kita sudah pasang di dalam rumah. Awalnya suami membeli kayu pallet. Seperti yang kita tau pallet kan pasti ada bekas pakuan dan lobang lainnya, yang pasti kayu nya masih butuh banyak usaha untuk membuatnya layak untuk kita gunakan sebagai barang layak. Hasilnya suami mengerahkan banyak usaha untuk mengerjakannya, mulai dari mengetam sampai mulus, mengamplas, mendempul dengan serbuk kayu sampai mengaplikasikan wood filler nya, sehingga permukaan kayu sudah mulus dan siap untuk di finishing.

Pembuatan meja belajar ini hanya dikerjakan pada hari sabtu tengah hari ketika saya sudah pulang kerja, dan minggu. Akhirnya baru selesai dalam 1 bulan hehe. Maklum suami sekalian menjaga anak-anak. Anak-anak ga bisa ditinggal apalagi sibontot. Anak kami ini harus ditemani terus, jika kita mengerjakan sesuau dia pasti datang dan ikutan.  Jadilah suami tidak bisa mengerjakan meja ini jika saya tidak ada. Dalam mengerjakan mebel kan banyak debu dan alat-alatnya tajam-tajam, jadi anak-anak tidak bisa diikutkan.

Saya juga ikut serta dalam pembuatan meja belajar ini, bantu-bantu amplas, bantu pencampuran bahan finishing, membersihkan barang supaya siap difinishing, cek bagian-bagian yang belum rapi, dll. J Banyak hal baru yang kita dapatkan dalam pengerjaan finishingnya. Dan hasilnya seperti berikut. Saya senang sekali dapat memiliki barang seperti jati jepara hehe, walaupun kayunya Cuma dari kayu pallet dan kaki-kakinya dari kayu biasa yang kita temui di panglong bangunan. Kayu-kayu dari panglong ini ada yang seratnya tidak bisa halus, masih saja ada serabutnya walaupun kita sudah amplas halus, tapi akhirnya bisa memuaskan.  Untuk finishing bagian atas kita menggunakan wood stain dan ditutup dengan PU, dan kaki-kakinya mirip-mirip Duco (karna tidak pakai clear saja). Hasilnya seperti ini…

Advertisements

Belakangan ini kami disibukkan dengan kegiatan membuat mainan untuk anak sendiri. Daripada beli, kalau bisa dibuat sendiri, kenapa tidak. Kevin saat ini sudah sangat bersemangat ditambah lagi sudah bisa berjalan, tidak bisa diam, apa yang dapat dilakukannya akan dia lakukan, untuk itu kami berinisiatif untuk membuatkan mainan untuknya juga kakaknya. Tujuannya adalah agar Kevin memiliki kesibukan tambahan tanpa harus menambah berantakan seisi rumah hehe. Namun tetap, namanya anak-anak, tidak akan bisa bertahan lama pada satu benda saja.  Nah mainan yang akan aku ceritakan adalah kail mainan.

Bermula dari adekku yang meminta dibuatkan kail mainan yang bermagnet untuk dipakai oleh Play Ground tempatnya mengajar, maka ide ini muncul. Langsung aku iyakan dong. Sesampainya di rumah, aku langsung bicara pada suami dengan antusiasnya. Suami pun menyanggupi. Kail yang dimaksud terdiri dari rotan, peganganya dari kayu balsa dan tentunya magnet di ujung kailnya supaya ikan2 mainan dapat menempel ketika anak-anak bermain pancing-pancingan. Kailnya dibuat dalam tiga warna yang totalnya 12 pancingan. Hasilnya seperti gambar berikut. Sangat cocok untuk anak-anak terutama toddler. Mainan pancing ikan ini mengasah daya imajinasi anak terhadap warna-warna dan menjadikan anak kreatif ketika mulai memancing ikan-ikanan. Play Ground tersebut hanya memesan kailnya saja. Untuk anak-anakku akan kami buatkan ikan-ikannya, oleh karena itu tunggu ya updatenya.

 

Yuhhu…ikannya udah jadi. Berikut tampilannya. Setiap ikan dipasangkan sejenis besi untuk magnet dapat nempel. Pattern ikan terinspirasi dari ana-white.com . Thank you,Ana.

Belakangan ini pikiran begitu banyak, begitu tinggi, sampai2 hampir lupa untuk berpijak ke bumi kembali. Banyak keinginan yang ingin dicapai, entah memang suatu kebutuhan atau ego semata. Sudah 1 tahun 6 bulan suami tidak mencari nafkah sejak kelahiran anak kedua kami. Ya, memang karena menjaga anak-anak. Dan selama itu pula pastinya pendapatan berkurang. Karena itulah, sekarang menurut kami sudah saat nya suami kembali berkiprah..syah.. entah itu kembali meneruskan karirnya dipertukangan baik bangunan atau mebel, atau mencoba berdagang atau bisnis rental atau travel. Ahh..hal ini lah yang menjadi pergumulan kami saat ini. Walaupun keinginan itu kuat, namun di sisi lain, anakku gimana? Pastinya bakal dititip ke orang, tapi tapi.. hati ini kembali gundah.

Feuuhhh..dari pada mikirin di lingkaran bagaimana menambah rejeki terus, mending aku mencoba meniti semua kepintaran anakku Kevin dulu.

Kevin, si abang barat, si botak (sekarang sedang botak sudah beberapa hari, yang akhirnya memberikan kesan badung di wajahnya hehe), sehat terus yang pasti. Sudah hampir 2 bulan ini tidak ada keluhan sakit setelah sebelumnya sambung menyambung dari demam, batpil, diare, batpil lagi. Kevin yang saa ini sudah mulai berjalan walaupun harus dijaga sepanjang dia jalan, karena masih kurangnya keberanian atau percaya diri nya. Setiap anakku ingin berjalan, dia akan menarik tanganku atau papanya, yang artinya ‘ma/pa, jagain aku ya’. Kemudian aku atau papanya pun akan mengikutinya dari belakang tanpa memegang tubuhnya, namun ketika dia mulai agak oleng, baru kami akan menopang sedikit tubuhnya agar kembali seimbang. Pegal pasti. Namun terbayarkan jika dia sudah mulai lihai dalam berjalan. Ada kalanya Kevin tidak sadar sudah berjalan tanpa dipantau atau berdiri tanpa bersandar. Sesaat kemudian jika fokusnya kembali bahwa dia sedang berjalan atau berdiri sendiri, saat itu pula dia akan gamang dan secepatnya berpegangan atau langsung duduk. Haihhh ..ayo dong,nak, kapan bisanya? Aku dan suami sering berpendapat bahwa Kevin sebenarnya atau semestinya sudah bisa jalan, sebab dia sudah berani naik turun sofa, berjinjit sampai ke ujung kakinya untuk menggapai benda dari ketinggian, sudah berani menggiring sepedanya seperti anak yang sudah bisa jalan. Terserah kamu lah,nak, kami tunggu dengan sabar ya, ketika kita berjalan bersama di suatu saat nanti tanpa dibimbing.

Dua hari yang lalu, ketika kakaknya Cilo minum susu kotak pakai sedotan, Kevin pun seperti biasa mendekati kakaknya seolah minta. Kemudian aku langsung mendekatkan sedotan susu tersebut ke mulutnya, dia pun mulai menggigiti sedotannya hehe. Beberapa kali kami contohkan, akhirnya Kevin mulai bisa menyedot, ahh..aku dengan senangnya tertawa sambal bilang ‘pintar’ dia pun keenakan. Keesokan harinya ketika Kakaknya minum susu kotak lagi, dia pun ikutan minum, menyedot dengan sedotan kali ini lebih baik dan akhirnya Kevin bisa minum pakai sedotan..horeee..good job, anak mama!

Hampir di hari yang sama, ketika kami sedang nonton tivi bareng, aku, papanya, Cilo,Kevin di pangkuanku. Tiba-tiba ada 1 kata keluar dari mulutnya mirip kata ‘doa’, sambil melipat tangan walaupun tidak sempurna untuk sikap berdoa, termangu sebentar mencoba menangkap apa yg dia maksud, aku pun langsung mengucapkan doa singkat seperti ‘Ya Tuhan, berkati Kevin, Ammeenn’, selesai, langsung lipatan tanganya dibuka..Ahh…amazing, bertubi-tubi kepintarannya muncul, membuat kami amaze-lah. Bayi-anak itu memang cerdas, ketika kebiasaan yang dilakukan orang di sekitarnya terutama orang tuanya sudah melekat di pikiranya, anak pasti cepat belajar. Sungguh luar biasa. Makanya kata literature, usia di bawah 5 tahun sebaiknya banyak melakukan stimulasi karena syaraf otak anak sedang berkembang, sangat cepat. Waww…

Tidak bisa dihitung kemajuan-kemajuan yang dilakukan anak, itu semua adalah anugerah. Di atas segalanya, sehat selalu adalah doa terbesar buat anak-anak. Jika anak sudah sakit, pikiran tidak tenang.  Mommy loves both of you, My Cilo Kevin.

Setelah minum OAE yang saat ini sudah mendekati 4 bulan, Kevin (1 tahun) tidak kejang kejang lagi. Kutulis ‘tidak’ karena berharap tidak pernah lagi sepanjang hidupnya. Semoga Tuhan berkehendak demikian. Tumbuh kembangnya juga tidak ada masalah menurutku juga dokternya. Kemaren tanggal 20 Juni 2016, kontrol ke dokter Johannes Saing.  Kontrol kali ini tidak ditemani oleh kak Cilo. Kak Cilo nya titip di rumah Rafael dulu, kasian asian bersempit-sempit di motor, berhubung Jl. Gaharu lumayan jauh. Seperti biasa dokter cek perut, punggung, mulut, dan ukur kepala, semua baik-baik saja. Semoga efek samping obat dapat dilawan oleh tubuh Kevin anakku. Saat ini BB naik menjadi 9,1kg, oleh karena itu dokter menaikkan dosis obat menjadi 2ml x 2 seharinya. Berharap besar dapat berjalan lancer terapi obatnya, supaya Kevin dapat bebas dari si E, seperti abang Al (anaknya Ai di grup Ortu Hebat hehe).

Doa terbesar kami saat ini agar tumbuh kembang Kevin tidak ada masalah sehingga dapat menjalani hidupnya dengan normal seperti anak lain. Begitu juga anak-anak di grup Ortu Hebat. Amin.

Saat ini suasana hati sedang tidak baik, pikiran stress. Gimana tidak, baru tadi malam (7 Maret 2016) anakku (9 bulan) diputuskan untuk minum obat selama dua tahun untuk menanggulangi kejang nya. Sedih rasanya mendengar itu dari dokter anak sepsialis neurologi anak tadi malam. Kenapa harus anakku? Kalimat yang selalu teringiang dalam pikiran. Dia begitu lincah, sudah bisa berdiri berpegangan, ceria. Tidak tampak bahwa di dalam dirinya terselubung kelainan otak itu, yang mana kata dokter ada kotak-kotak di bagian otak yang berpotensi terjadinya kejang lanjutan, baik tanpa atau dengan demam.

Kejadian itu bermula pada akhir desember lalu (desember 2015), anakku yang memang sedang pilek namun tetap ceria, juga demam yang naik turun kejang untuk pertama kali nya hanya pada suhu 38,5C. Saat itu aku sedang memangkunya sambal minum susu dari dot. Tiba-tiba badangnya kejang, tangan dan kaki tegang, mulut dikatup, tidak sampai 2 menit, kejang sudah berhenti, dan lemas. Sehabis kejang dia BAB kemudian kembali riang ke sana kemari. Kami langsung membawa ke dokter umum terdekat dan diberi obat demam dan anti kejang.

Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 28 Feb 2016, kejang secara tiba-tiba. Kali ini tangannya tegang dikatup, mata melihat ke atas, namun bagian tubuh dari perut ke kaki tidak tegang, biasa saja. Kami tidak berpikiran dia demam, Cuma dia sedang batuk pilek juga sedang rewel karena tumbuh gigi pertama. Kejang nya juga sedang minum susu dari dot, dan maksimal hanya 1 menit. Berhenti dan dia lemas tertidur sebentar. Kami bawa ke dokter umum terdekat, dikasih obat batuk pilek dan anti kejang. Saat itu juga diukur suhu badannya, hanya 36.9C, alias tidak demam. Bingung dan sedih rasanya. Karena say abaca-baca kejang tanpa demam ini yang berpotensi besar untuk terjadi epilepsy.

Kami pun janjian dengan dokter anak pada hari senennya. Dia menyarankan kami EEG. Karena satu dan lain hal, EEG baru dapat kami lakukan pada hari kamis (3 maret 2016) dan hasilnya kami ambil hari sabtu nya. Karena dokter tersebut tidak bisa kami temui hari itu juga, sedangkan kami sudah ingin sekali tau hasilnya, kami pun mendatangi dokter lain, dokter ini yang merawat anak pertamaku dulu ketika di opname karena diare dan kejang. Saya juga baru ingat sama dokter ini, dokter anak spesialisasi neurologist juga. Sabtu itu juga kami datang ke tempat praktik beliau dengan membawa hasil EEG itu. Namun karena dia tidak bisa baca hasil pastinya karena tidak dapat melihat ke sumber rekaman EEG nya, dia pun menyarankan kami EEG ulang ke RS tempat dia bekerja. Ya tidak apa-apa, demi berharap hasilnya beda dan lebih baik, kami pun EEG kembali pada hari senen, 7 maret 2016.

Tanggal 8 maret 2016 pertama kalinya Kevin minum obat itu. Terbayang selalu masih panjangnya perjalanan kami memberi obat itu pada anak kami, pastinya butuh komitmen yang kuat untuk dapat berhasil. Semoga hanya dua tahun, kalu bisa dapat dipersingkat. Berharap tidak terjadi kejang lagi dalam perjalanan 2 tahun ini, supaya anakku tidak lebih lama minum obatnya. Anakku susah sekali minum obat, kasihan melihat dia harus dipaksa untuk minum obat. Apalagi obat ini harus diminum 2 kali sehari. Tuhanlah yang menguatkan anakku dan menyembuhkannya. Mohon doanya siapa pun yang membaca ini.

Berikut hasil eeg dari kedua RS :

  1. Materna,Medan : Kesan menunjukkan kelainan irritatif difus , komentar gambaran EEG dapat sesuai dengan penyakit konvulsi
  2. Elisabeth, medan: kesan EEG menunjukkan lesi iritatif multifocal

Sayangnya saya belum bertanya apa akibatnya buat anak saya dengan hasil eeg seperti itu. Mungkin nanti konsultasi selanjutnya saya akan tanyakan lebih jelas.

Cerita ASI tidak ada habisnya. Sejak mengandung dan akhirnya melahirkan, sekarang berjuang untuk memberikan Kevin ASI semaksimal mungkin. Kenapa aku bilang semaksimal mungkin? Karena ASI ku tidak semelimpah ibu-ibu lain. Sekarang Kevin jalan 3 bulan, hasil pompa ASI sekali pumping dari 2 PD maksimal cuma dapat 100 ml, itu pun jarang, mayoritas cm dapat 80ml. Hiks.

‘Say, makan apa supaya ASI melimpah seperti kamu?’ Katuk banyak-banyak.

‘Eh..sis, kok bisa sih ASImu banyak?’ yang penting rileks,han, jangan stress.

Baca-baca forum ibu-ibu yang bahas ASI, nemu banyak sekali booster ASI.  Mulai dari obat-obatan kimia, sampai minum yang ekstrim, apa tuh? Jus pare dan jus daun pepaya. Kebayang dong dahsyatnya. Namun pengaruh booster ini beda-beda untuk tiap orang. Jadi, harus coba-coba banyak booster dech.

Begitulah kegiatan ku setiap hari terutama di kantor. Tidak pernah ketinggalan baca-baca soal ASI. Aku masih berharap ASI ku bisa lebih baik lagi kuantitasnya. Secara Kevin doyan sekali minum susu. Sudah sampai gumoh, masih aja nangis sambil isap-isap jari, atau memoncong-moncongkan bibirnya.

Ritual memerah ASI di kantor sekarang sudah aku tingkatkan, dari awalnya 2 kali sehari, durasi 3-4jam, sekarang demi meningkatkan kuantitas ASI yang kubawa pulang, aku pumping sampai 3 kali, pakai jam istirahat untuk  pumping sekali. Pastinya total ASI yang kubawa memang lebih banyak. Biasanya kalau pompa dua kali,total cuma dapat mayoritas 160ml. Setelah 3 kali pompa, total dapat 200-240ml. Lumayan kan. Sekarang  Kevin sekali minum 80-90ml tiap 2jam ,bahkan sering tidak sampai 2 jam. Ya tidak seperti bayi-bayi lain, yang sekali minum udah sampai 120ml. Bukan kah kebutuhan tiap bayi itu beda-beda? Read the rest of this entry »

Puji Tuhan, hamil ke dua ini adalah laki-laki, jadi lengkap sepasang, mudah2an sehat-sehat. Sejak hamil kedua, berasa diri jadi pemalas, termasuk update blog ini. Baru sekarang tergerak untuk membagi keinginan dan cita-cita setelah melahirkan nanti. Di dalamnya termasuk keinginan untuk lahiran normal lagi, kemudian IMD, dan terahir tentunya ASI eksklusif.  ASI ekslusif sangat-sangat aku inginkan berhubung ASI ekslusif tidak tercapai ketika anak pertamaku masih menyusu. Dimana kala itu, pengetahuanku soal manajemen ASI eksklusif masih kurang. Dan sekarang lah saat nya saya menebus kekurangan itu, untuk adiknya.

Tidak terasa usia kandungan sudah memasuki minggu ke 35. Sudah mulai terasa tidak nyaman, terutama di daerah vagi** dan selangkangan. Terakhir aku cek ke bidan, bilang bahwa janin udah mulai masuk panggul atas, karena itulah aku merasakan nyeri di sekitar selangkangan dan tulang belakang. Menurut yang aku baca, hal ini merupakan salah satu tanda bahwa persalinan sudah mulai dekat. Sudah bisa menyiapkan semua, mulai dari mental, materi dan barang-barang yang diperlukan untuk persalinan nanti. Fiuuh… ada rasa was-was, karena sudah tau bagaimana rasanya melahirkan secara normal. Dan untuk yang kedua ini, mudah2an dapat melahirkan dengan normal juga. Semoga Tuhan berkenan.

Persiapan menjelang lahiran, juga saya lakukan dengan berolahraga, seperti jalan kaki. Sudah sejak sebulan lalu saya rutin jalan kaki, tiap pagi kalau nggak tiap sore, sesempatnya saja. Di rumah juga aku termasuk aktif, namun jangan sampai terlalu lelah. Selain olahraga, aku juga sudah mulai mencicil persiapan keperluan lainnya, tergantung rejeki hehe. Maklum banyak sekali keperluan. Aku sudah mencicil botol ASIP, keperluan untuk aku, dan keperluan untuk si baby.  Sudah menyusun rencana manajemen ASIP bersama suami juga. Seperti bagaimana cara sterilisasi botol, pemberian ASIP, sampai cara menjaga ASIP ketika freezer dibersihkan. Aku juga sudah mulai merencanakan bagaimana aku memerah ASI ketika aku bekerja nanti, ruangan dan jadwalnya bagaimana, agar tidak mengganggu pekerjaan dan atasan juga tidak memiliki masalah dengan kegiatanku tersebut. Butuh tekad yang besar memang, mudah-mudahan semuanya dipermudah demi anakku.

Semoga semua berjalan lancar, sehat ibu dan bayi.