gabemahita

Bapak merangkap mama

Posted on: September 21, 2015


Kita tidak dapat memungkiri kalau seorang laki-laki, atau lebih tepatnya seorang yang sudah menjadi bapak, umumnya memiliki pemikiran kalau urus rumah itu adalah istri, apalagi urus anak. Bapak umumnya akan gengsi atau dari sono nya memang sudah punya ego sendiri untuk tidak mau mengurus anak. Jangankan membersihkan pup anak, menggendong di depan umum pun mungkin akan gengsi. Ayo, pasti saat ini masih ada yang begitu kan?

Kebetulan saat ini aku baru saja baca soal pengakuan seorang bapak bahwa sudah bawaan alam sadarnya kalau lelaki itu ego dalam mengurusi rumah, termasuk anak. Punya anak ya sudah punya anak, ya begitu saja. Cukup kewajibannya Cuma urus soal mencari nafkah. Iya, kalau memang si lelaki itu memiliki pekerjaan tetap, atau pekerja keras, walopun tidak memiliki pekerjaan tetap, dan berpikiran bahwa dia akan menafkahi anak istrinya. Tapi, bagaimana pula dengan bapak-bapak yang pekerjaannya tidak menentu, eh masih saja kerjanya Cuma makan tidur saja di rumah. Kalau di orang batak, banyakan nongkrong di lapo. Grrr….semua urusan dilimpahkan ke istri. *Tabok

Nah, kali ini aku mau share kegiatan keseharian keluargaku. Berkaca dari yang sudah aku sebutkan di atas, aku bersyukur sekali memiliki suami seperti suamiku. Suamiku harus merelakan pekerjaan-pekerjaan yang ditawarkan kepadanya, demi bisa menjaga anak-anak kami. Dari anak pertama, suami ku juga yang urus. Ya, sebelumnya sejak saya masih hamil juga, sudah kami diskusikan siapa yang akan menjaga anak kami jika aku sudah melahirkan. Sekarang anak kedua kami baru akan berumur 3 bulan dan anak pertama kami berumur 3 tahun 3 bulan. Oleh karena itu, kebayang dong gimana suamiku repotnya mengurusi anak. Dan hei..bukan sekedar mengurus anak loh, dia juga selalu berusaha untuk beberes rumah. Jadi ketika aku sudah pulang, rumah sudah bersih, itu selalu yang jadi komitmen nya hehe.

Taukah kamu, kalau sekarang anak keduaku sedang bisulan. Sudah hampir sebulan, mati 1, muncul lagi. Gemes. Dan merawat yang bisulan itu pekerjaan yang butuh ketelatenan. Suamiku lah yang melakukanya ketika aku kerja. Bahkan jika aku sudah di rumahpun, aku dan suami masih ganti-gantian memperhatikan anak-anak, terutama anak kedua kami yang dari sejak lahir memang termasuk rewel.

Setiap hari, mulai dari bangun tidur tiap jam 5, kalau anak kedua kami (Kevin) sudah bangun dan minta minum, terpaksa yang masak adalah suami. Jika sambil menyusu Kevin tertidur, bisalah aku bantu beres-beres rumah. Jika tidak, ya sampai nyapu rumah minimal akan dikerjakan oleh suami. Selesai itu, Kevin pindah ke bapaknya, dan aku beres-beres ASIP, sterilisasi perlengkapan ASIP dsb, baru kemudian aku mandi. Pulang dari kantor, Kevin langsung aku yang perhatikan, tidak sempat duduk-duduk manis dulu istirahat, bahkan makan juga curi-curi waktu, maklum suka lapar. Suami membereskan yang lain yang belum sempat dibereskan, termasuk cuci baju, cuci piring, mandiin kakak cilo. Ya, itu karena Kevin maunya digendong atau memang cengeng anaknya. Kami semua jadi rontok badanya rasanya.😀.

Jika dilihat orang, memang pasti mayoritas mencibir suamiku. Dianggap suami yang tidak bisa menafkahi keluarga, atau lainnya. Pernah suatu saat, temanku berujar enak banget suamiku bisa di rumah terus. Kemudian aku jawab bahwa suamiku justru paling capek. Dari kalimat temanku itu, masih banyak kita berpikir, bahwa pekerjaan rumah itu adalah pekerjaan yang enteng. Makanya tidka heran, banyak suami yang beranggapan pekerjaan istri Cuma di rumah enak-enakan. Karena si suami saja yang cari nafkah, sehingga istri dianggap Cuma terima duit. Coba dech para suami di rumah dulu, lakukan rutinitas yang istrimu lakukan, seperti yang sudah dilakukan suamiku, yakin pasti kalian akan berubah pikiran soal pekerjaan mengurus rumah. Jadi, sayangi dan hargailah istrimu. Istri bisa saja mencari duit, namun aku tidak yakin suami sanggup melakukan pekerjaan rumah seperti yang dilakukan istri. Sekali lagi aku katakana, bahwa tidak banyak suami yang sanggup seperti suamiku. Bukan karena dia malas cari nafkah atau tidak sanggup menhidupi keluarga, namun untuk saat ini, begitu dulu kebutuhan kami. Bukankah kebutuhan dan kondisi setiap keluarga beda-beda. Jadi jangan samakan keluarga si A dan si B.

Akhirnya aku berharap, anak-anak kami sehat selalu. Dan suatu saat keluarga kami lebih sejahtera seiring berjalanya waktu, anak-anak sudah besar-besar, dan suami sudah memiliki usaha yang lebih baik untuk tambahan rejeki. Hanya Tuhan yang tau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: