gabemahita

Kelahiran Kevin

Posted on: July 29, 2015


Akhirnya kembali lagi ke kantor setelah hampir 2 bulan aku cuti melahirkan. Aku ingin cerita tentang proses persalinanku yang kedua ini. Tapi sebelum itu, aku ingin bernostalgia dulu saat hamil yang begitu penuh dengan berbagai perburuan informasi seputar hamil, melahirkan, dan ASIP. Aku terinspirasi dengan yang namanya gentle birth, hypnobirthing, lotus birth, dkk. Aku juga terobsesi dengan ASIP. 2 minggu sebelum aku kerja, sudah mulai stok ASI, walopun ASI ku tidak sebanyak ibu-ibu lain, namu tetap semangat. Sekarang di kulkas satu pintuku sudah hampir penuh oleh botol-botol ASIP, puji Tuhan. Tidak gampang untuk memulai ASIP dan semua nya, karena banyak sekali cobaan, termasuk bayiku ternyata lebih cengeng dari kakaknya dulu, belum lagi suamiku kadang susah dikasih pengertian tentang ASI Eksklusif. Bayi nangis, dia pikir masih kurang kenyang, akhirnya dia menuntut untuk dikasih susu formula dan sedikit menyinggung aku tentang ASIku yang kurang katanya. Ahh..sedih..perjuangan banget, rasanya berjuang sendiri untuk memberikan yang terbaik untuk anak. Namun aku tetap memberikan penjelasan pelan-pelan.

Kembali ke pokok bahasan sebelumnya. Tepat tanggal 4 Juni kira-kira jam 1.30 dini hari, aku ngerasa seperti ada rembesan di celana dalamku, aku pikir itu adalah air ketuban. Dalam hati aku berkata bahwa prediksi dokter ternyata tidak meleset, bahwa HPL ku sekitar tanggal 3-4 Juni. Aku dan suami masih tenang-tenang saja. Hingga pada jam 3.30 dini hari, aku ngerasa mules dan ketika aku ke kamar mandi, sudah ada flek darah. Aku bergumam, akhirnya sebentar lagi akan ketemu dengan anak ku Kevin. Ketika hari sudah terang, dan aku memutuskan untuk tidak masuk kantor lagi, aku dan suami menuju klinik bidan. Aku menunjukkan cairan putih tersebut, ternyata bukan air ketuban, melainkan lendir-lendir yang katanya bagus untuk mempermudah persalinan (haha..udah pernah melahirkan, air ketuban masih belum tau bagaimana). Saat itu langsung cek dalam juga, namun pembukaan baru 1. Sudah harap-harap cemas akan melahirkan hari itu juga, ternyata tidak.

Tanggal 5 Juni 2015, besok pagi harinya, sekitar jam 5 aku dan suami tetap melakukan jalan pagi, kali ini lebih jauh lagi, dengan harapan bukaan cepat bertambah. Sesampai di rumah, tidak berapa lama, aku sudah merasakan mules-mules, dan aku mulai menghitung durasi gelombang cinta itu. Sekitar jam 9an, aku merasakan gelombang yang semakin intens dan teratur, dari tiap 10 menit, sampai tiap 5 menit. Akhirnya aku pun telp kak bidan supaya datang dan periksa. Kak bidan datang dan melakukan cek dalam, ternyata bukaan udah 6. Waw..makin deg-degan menunggu bertemu dengan baby Kevin. Saat itu juga, kak bidan ajak kami ke kliniknya.

Sesampainya di klinik, sekitar jam 10 lewat, aku pun baringan, dan menghadap ke kiri, dimana yang pernah aku baca kalau baringan hadap kiri dapat mempercepat bukaan. Aku pun melakukan tidur hadap kiri, rasanya tidak terkatakan nikmatnya. Nyerinya intens sekali hingga rasanya terasa dari kepala sampai ujung kaki. Ketika gelombang itu datang, aku tidak dapat menahan sakitnya, padahal udah banyak baca testimoni ibu-ibu lain yang melakukan gentle birth, supaya hipnotis diri untuk menghadapi rasa gelombang itu, tapi tetap tidak bisa. Mulut ini selalu teriak tiap kali gelombang itu datang. Hingga ketika rasanya aku ingin sekali BAB, sudah tidak bisa ditahan. Ingin sekali ngedan akhirnya aku bilang ke kak bidan ‘kak,aku mau berak!!!!’. Kak bidan pun datang, dan cek dalam, phuewww…sudah bukaan 9 menuju 10. O my God, cepet banget bukanya. Akupun diperbolehkan ngedan. ‘Baik, ngedan lah,dek’ kata kak bidan. Aku pun ngedan sekuat tenaga, aku dapat merasakan si baby Kevin ada di pintu vaginaku, tinggal menunggu mamanya ngedan lebih kuat lagi. Aku ulangi lagi sampai 2 kali, akhirnya Kevin pun lahir, aku dapat merasakan pergeseran di perutku, sampai rasa plong ketika Kevin lahir. Aghh..dapat diibaratkan seperti BAB paling besar dalam hidup hehe. Tepat pukul 11.50 siang hari, Kevin lahir dengan lilitan tali pusar juga seperti kakaknya dulu. Kali ini aku senang sekali, rasanya jauh lebih gampang dibanding kakaknya dulu. Kalau dulu, kakaknya 3 jam kemudian baru lahir.

Tapi rasa senang itu seolah berubah menjadi petaka. Plasenta yang seharusnya langsung dapat lahir, kali ini tidak. Seketika aku tidak merasa khwatir karena aku belum pernah tau kejadian seperti ini. Namun ketika kak bidan mengusahakan segala cara supaya plasenta dapat lahir,namun tidak berhasil, baru aku pun mulai panik. Kak bidan juga menjelaskan akibat dari hal ini. Aku pun terdiam, dalam hati meratapi nasibku, kenapa bisa begini, ketika aku dapat melahirkan dengan mudah. O Tuhan, tolong aku. Pupus sudah semua angan-angan selama hamil, apa yang diharapkan, sangat terbalik dan di luar dugaan. Aku pun pasrah, ketika kak bidan menganjurkan untuk merujuk aku ke rumah sakit terdekat. Segera kak bidan telp ambulance, namun sedang dipakai. Akhirnya kak bidan memakai angkot untuk mengantarku ke rumah sakit. Saat itu kondisiku masih berantakan. Tali pusar penghubung plasenta dijepit, darah-darahku dibersihkan, kemudian aku dipakaikan kain untuk menutupi bagian bawahku. Angkot baru datang pukul 13.30. Bayangkan lamanya dari Kevin lahir, darah terus mengalir. Aku pun digotong ke dalam angkot oleh 4 orang termasuk suamiku. Rasa iba terhadap diri sendiri menyelimuti jiwaku. Selama dalam angkot, mataku menerawang kosong, yang aku ingat hanya Tuhan dan bayiku di klinik. Sedih rasanya meninggalkan dia sendiri di situ.

Sampai di rumah sakit pukul 14.00, langsung ke UGD. Di sini lah saat-saat paling mengerikan dalam hidupku. Awalnya aku tidak tau bagaimana proses mengeluarkan plasenta ini. Aku tetap tenang. Pertama-tama bidan imut ini memasukkan tangan imut nya ke dalam vaginaku, cek sana-sini. Dia juga coba memasang kateter ke saluran kencingku siapa tau ada urine yang menumpuk sehingga menghalangi plasenta keluar, tertnyata tidak. Cek permulaan ini, selesai. Akhirnya dia berkata ‘kak, kali ini lebih sakit, tahan ya, o ya, minum teh manis dulu, supaya ada tenaga’, sambil dia meminta suami belikan teh manis untuk ku. Kemudian dia pun memasukkan tangannya ke dalam vaginaku lebih dalam lagi dan lagi, dapat aku katakan sakitnya sampai langit ketujuh, aku ingin mati saja rasanya. Yang menguatkanku adalah Kevin yang sendirian di sana. Dia butuh ibunya, dan aku juga belum menciumnya, belum menyusuinya, belum memeluknya. Ahh…mengalir lagi air mata ini. Proses itu rasanya berjalan lama sekali, ingin sekali aku menendang bidan ini, tapi di lain pihak,aku ingin sekali cepat pulih dan kembali di tengah keluargaku, membawa Kevin ke rumah. Beberapa bidan pendamping menguatkanku dengan kata-kata biijak, agar aku semangat dan tidak menyerah. Suami di sampingku sambil memberiku minum teh manis. Selama proses mengeluarkan plasenta itu, aku terus teriak sekuat-kuatnya, menyebut nama Yesus. Sakit sekali rasanya. Rahimku diubeg-ubeg oleh tangan mungilnya, rasanya seperti gelombang laut gerakanya.Aku bisa merasakannya. Dalam hati juga,aku minta tolong pada plasenta supaya mau cepat-cepat keluar. Tidak henti-hentinya para bidan memberi semangat, dan bilang aku hebat, tinggal sedikit lagi katanya. Dan saat itu pun, rasanya aku juga ingin mengakhiri semua.

Akhirnya sekitar pukul 15.30, pengeluaran plasenta ini selesai. Jaringan vaginaku dijahit oleh bidan yang sama. Aku terkulai lemas, ingin rasanya menutup mata ini. Namun ketika aku menutup mata, bidan itu langsung melarang. Aku tidak diperbolehkan untuk tidur,hingga 2 jam kedepan. Adek-adekku dan Cilo datang ketika vaginaku selesai dijahit. Aku menangis melihat mereka. Adiku bilang, aku pucat sekali dan lemas, maklumlah sudah seberapa banyak darahku terbuang hiks. Mereka dianjurkan untuk tetap membuat aku tidak tertidur dulu.

Malamnya aku USG untuk cek apakah plasenta sudah benar-benar bersih. Puji Tuhan, sudah bersih kata dokter, sehingga tidak perlu ada tindakan lain lagi. Cuma 1 malam aku di rumah sakit, aku sudah bisa jalan dan sehat, sehingga sudah boleh pulang. waktu yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku dapat menjemput Kevin. Haru rasanya. Sampai di rumah, aku menangis lagi di depan mertua yang menyambutku dengan rasa iba dan memelukku.Kevin langsung digendong mertua. Akhirnya berkumpul juga dengan keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: